Buku – Ngenepne Banyu: Catatan Autoetnografi-Warga tentang Perawatan Air di Daerah Hulu, Tengah, dan Hilir DAS-DAS di Semarang Raya

Buku ini memuat 17 tulisan catatan autoetnografi yang menceritakan pengetahuan dan pengalaman sehari-hari para perempuan yang memiliki latar usia, profesi, status ekonomi, lokasi bermukim, dan juga sejarah hidup yang berbeda-beda tentang bagaimana dan apa saja tantangan mereka dalam merawat air.

Buku ini memahami kerja-kerja “merawat air” (Caring for Water) sebagai suatu upaya, apa pun bentuknya, yang dilakukan untuk memperbaiki, memelihara, dan memastikan agar air tetap tersedia supaya bisa melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Seperti kata salah satu penulis autoetnografi dari daerah hulu DAS Babon, merawat air berarti “menjaga kualitas, kuantitas, juga kontinuitas air agar terus ada.”

Kalau air di rumah keruh, teman-teman memasang filter air? Memasukkan ijuk ke sumur? Memakai tawas di bak mandi? Memasang saringan kain di mulut keran? Atau mengendapkan air terlebih dahulu di dalam ember selama satu malam?

Lalu, kalau air di rumah sedang macet atau tidak mengalir setiap hari, teman-teman memperdalam sumur? Mengganti ukuran tandon menjadi lebih besar? Memancing pompa air? Menadah air hujan? Memotong ukuran bak? Atau memanfaatkan kembali air bilasan beras?

Kemudian, untuk menjaga air di rumah bisa terus ada, teman-teman membuat lubang resapan biopori? Mengikuti kegiatan tradisi bersih-bersih mata air? Mempertahankan pohon bambu untuk menyimpan air? Menanam pohon tancang untuk menetralkan air limbah? Atau membeli hak pakai hutan supaya bisa menjaga mata air?

Nah, itu semua adalah bentuk praktik “Merawat Air“.

Lebih lengkapnya, silakan unduh buku di sini. Selamat membaca.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *