“Ngrumat Banyu” di Lereng Gunung Ungaran

Putaran pertama dan kedua untuk kegiatan pelatihan autoetnografi-warga Semarang sudah terlaksana pada 17 dan 24 September 2023. Kemudian disusul pertemuan ketiga yang terhelat pada 01 Oktober 2023. Ada tiga peserta pelatihan (penulis) autoetnografi-warga yang berasal dari kaki Gunung Ungaran, lebih tepatnya di Dukuh Gempol, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Kemarin (05/11/2023) beberapa peserta pelatihan dan beserta fasilitator mengunjungi kediaman peserta yang berasal dari hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut. Untuk apa? Mari simak ceritanya.

Minggu pagi kami, penulis autoetnografi-warga, berkumpul di Kedai Kang Putu di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Sejak beberapa hari sebelumnya, kami telah membincangkan rencana untuk bersama-sama mengikuti upacara iriban. Menurut Sindy, Arifah, dan Maudiya, para penulis yang tinggal di Limbangan, iriban merupakan upacara yang menandai rasa syukur atas keberlimpahan air di Limbangan, setidaknya di Dukuh Gempol. Adapun tema iriban tahun ini adalah “Anane Banyu mergo Anane Alas“, yang menggambarkan adanya keterkaitan antara sumber air dengan keberadaan hutan.

Lewat diskusi dalam pertemuan-pertemuan pelatihan, Sindy sudah banyak bercerita tentang iriban. Menurutnya, iriban merupakan acara yang dilakukan setiap tahun untuk membersihkan sumber air, kemudian menyembelih ayam di dekat sumber tersebut, sebagai tanda rasa syukur. Sindy mengemukakan, penduduk Dukuh Gempol memiliki prinsip bahwa “anane banyu mergo anane alas”, yang berarti adanya air karena adanya hutan. Selaras dengan yang diungkapkan Arifah bahwa iriban, yang bernama lain susuk wangan, merupakan kegiatan bersih-bersih wangan (hutan).

Kami telah menyepakati titik kumpul, waktu, dan mencatat siapa saja yang (memiliki waktu) pergi ke Limbangan. Tidak semua penulis autoetnografi-warga berangkat, namun setidaknya hampir separuh dari keseluruhan penulis (lima dari 13 penulis). Kelima penulis berangkat dari Semarang, kemudian bertemu dengan tiga penulis lain di Limbangan. Dari Semarang, kelima penulis dibersamai pengampu kelas menulis autoetnografi (Gunawan Budi Susanto atau Kang Putu), fasilitator kelas (Bagas Yusuf Kausan), dan seorang kawan peneliti dari Belanda (Marie Belland). Kami menempuh sekitar satu jam perjalanan dari Gunungpati menuju Limbangan dengan menggunakan angkutan kota (angkot) sewaan.

Rumah Sindy, yang juga merupakan penggiat Komunitas Omah Sawah, di Dukuh Gempol, menjadi jujugan kedatangan kami. Beberapa orang muda, musisi, perupa, mahasiswa, yang berjejaring dengan Omah Sawah, tampak sedang bersiap pula mengikuti upacara Iriban. Ketika kami tiba, beberapa penduduk laki-laki terlihat sudah mulai bergerak ke arah hutan, melewati jalan beton menanjak, menggunakan sepeda motor. Para laki-laki itu membawa sabit, cangkul, atau peralatan lain, serta memakai sepatu booth dan iket kepala. Kami termasuk rombongan yang berangkat menuju titik lokasi iriban paling terakhir.

Setelah memarkir angkot di dekat rumah Sindy, kami berjalan kaki melewati jalan setapak-tanah, lalu berlanjut jalanan beton dengan pemandangan kebun warga di kiri dan kanan. Di area kebun tersebut, kami mendapati adanya tandon air besar berwarna biru dan berdinding semen. Tandon tersebut merupakan bak penampungan air yang mengalir dari sumber. Dari tandon tersebut air kemudian dialirkan menuju rumah-rumah penduduk menggunakan pipa. Warga Dukuh Gempol mengelola sendiri sistem penyaluran air bersih tersebut. Soal ini akan kami ceritakan belakangan.

Jalan setapak menuju lokasi upacara “Iriban”. Sumber: Dokumentasi penulis.

Pemandangan yang kami lalui setelah melewati kebun warga adalah vegetasi hutan. Jalan setapak di tengah hutan tidak lebar, pada beberapa ruas bahkan licin dan curam, sehingga kami perlu berjalan bersama secara perlahan-lahan. Ritme berjalan kami sering pula tersendat, terutama ketika perlu melompati potongan pohon besar yang tumbang, menyeberangi sungai, dan menaiki bukit terjal. Pada sepanjang perjalanan, kami melewati sambungan pipa dengan diameter kira-kira 20 cm: terkadang tampak muncul ke permukaan, lebih banyak lagi tak terlihat karena terbenam di dalam tanah.

Sejak awal, sebenarnya Sindy sudah mengingatkan secara sekilas bahwa medan menuju lokasi iriban sangat berat. Namun beberapa orang yang baru pertama mengikuti iriban tidak menduga medan yang ditempuh akan “seberat itu”. Sebagian terpaksa menghentikan perjalanan, karena badan tidak lagi kuat; sebagian lagi memilih beristirahat cukup lama sebelum kembali berjalan, untuk memulihkan tenaga dan nafas yang sudah tersengal-sengal; namun lebih banyak yang tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai di titik tempat iriban digelar.

Di lokasi iriban terdapat tandon berdinding semen, lengkap dengan instalasi pipa-pipa, seperti yang ada di kebun dekat jalan beton. Ketika kami sampai, di area tandon tersebut sudah disesaki banyak orang, kebanyakan laki-laki. Kami melihat ada yang sedang membersihkan tandon, membabati rumput, membetulkan posisi batu-batu penyaring, mencangkuli bidang tanah yang tampak miring untuk menjadikannya lebih datar sebagai antisipasi gerusan tanah dari lereng bukit atas, dan ada pula yang sibuk menyalakan perapian untuk memasak.

Beberapa di antara kami duduk di dekat tempat warga memasak. Selain mengobrol dengan warga, kami juga disibukkan untuk menyimak keberadaan mangkok-mangkok berbahan janur (daun kelapa yang masih muda). Isi dari mangkok dengan berbagai ukuran tersebut sangat beragam, mulai dari nasi, sayur, dan aneka lauk-pauk. Kami juga melihat banyak kantong-kantong berbahan kain bergelantungan di pohon, berisi beberapa batang pakis muda yang dipilah dari hasil membersihkan area untuk makan bersama. Dari obrolan dengan warga kami mengetahui bahwa batang pakis tersebut akan dibawa ke rumah sebagai bumbu dan/atau bahan masakan.

Ketika proses pembersihan tandon selesai, salah satu warga memberi informasi bahwa upacara iriban akan segera dimulai. Proses upacara ditandai dengan membalutkan kain putih di pohon paling besar, lalu menyembelih ayam persis di atas aliran sungai. Pada mulanya kami tidak mengetahui nama sungai tersebut. Kami hanya menyadari bahwa itu adalah sungai yang kami seberangi di perjalanan. Belakangan, dari hasil bertanya kepada warga, kami mengetahui sungai tersebut bernama Sabrang. Aliran Sungai Sabrang berasal dari Curug (air terjun) Dandang yang berada di atas lokasi iriban. Sebetulnya kami sangat ingin mengunjungi lokasi curug, hanya saja tenaga kami sudah terkuras habis.

Tidak lama setelah prosesi memotong ayam selesai, kami mendengar warga mulai menyanyikan lagu berbahasa Jawa, Lir Ilir, secara bersama-sama:

“Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir / Tak ijo royo royo / Tak sengguh panganten anyar / Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi / Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira / Dodotira dodotira kumitir bedah ing pinggir / Dondomana jlumatana kanggo seba mengko sore / Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane / Sun suraka surak iyo!.”

Merujuk salah satu artikel di media informasi Pondok Pesantren Tebuireng, arti lagu tersebut dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

“Bangunlah-bangunlah, tanamannya sudah bersemi / Sudah hijau-hijau / Bagaikan pengantin baru / Anak gembala, anak gembala, panjatlah (pohon) belimbing itu / Walau licin, tetaplah kau panjat, untuk membasuh pakaianmu / Pakaianmu, pakaianmu, terkoyak-koyak di bagian samping / Jahitlah, benahilah, untuk menghadap nanti sore / Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang / Ayo bersoraklah dengan sorakan Iya!”

Jika diperhatikan baik-baik, lagu ciptaan Sunan Kalijaga tersebut mengandung makna perawatan, caring. Lebih tepatnya lagi pada bait yang merujuk pada makna menjahit dan membenahi pakaian yang terkoyak. Nampaknya hal itu selaras pula dengan apa yang dilakukan warga Dukuh Gempol melalui upacara iriban atau susuk wangan, di mana mereka membersihkan sumber aliran air dan sekaligus merawat hutan.

Setelah prosesi menyanyikan lagu selesai, salah seorang warga memimpin doa bersama. Dalam rangkaian kalimat doa, kami menangkap adanya ungkapan Syukur atas aliran air yang selalu tersedia sepanjang tahun, serta harapan supaya ketersediaan air dari sumber tersebut selalu mencukupi kebutuhan warga dukuh. Kami yang mengikuti upacara tersebut mengikuti doa dengan mengucap “amin” pada setiap jeda kalimat. Setelah doa selesai, pemimpin upacara langsung meminta seluruh hadirin makan bersama.

Proses makan bersama berjalan sangat hangat. Kami duduk di depan mangkuk janur yang berisi nasi. Salah seorang warga kemudian berkeliling membagikan ayam yang disembelih dan telah dimasak di dekat sumber dan tandon air. Sembari makan kami, para penulis autoetnografi-warga, tak henti-hentinya berkomentar bahwa rasa makanan sangat enak, karena sudah diberi doa dan dimasak secara langsung di lokasi. Beberapa memberi komentar lain bahwa rasa makanan terasa sangat sedap, karena kami memang sedang lapar dan membutuhkan asupan tenaga, setelah berjalan jauh melewati medan yang tidak datar-datar saja.

Selesai makan, perjalanan pulang ke permukiman pun dimulai. Kami kembali harus menuruni bukit curam nan licin, terkadang sampai harus membuat kami berpegang pada akar pohon agar tidak terpeleset. Sesampainya di celah pembatas dua punggungan bukit, kami harus menyebaringi Sungai Sabrang dengan berjalan zigzag dari satu batu ke batu lainnya. Salah seorang di antara kami berhenti sejenak di sungai tersebut, lalu mencuci muka dan meminum langsung dari air sungai. Cuci muka dan menenggak air sungai merupakan bagian dari persiapan sebelum kembali harus menyusuri jalan setapak dengan tanjakan-tanjakan yang terjal.

Ketika perjalanan pulang kami merasakan beberapa perbedaan. Misalnya, sepanjang perjalanan, kami terus menjumpai para penduduk laki-laki Dukuh Gempol yang berlalu lalang untuk memeriksa pipa air. Di lokasi tertentu mereka membuka keran pengurasan, membersihkan tandon, hingga memangkas beberapa pucuk pohon—baik itu untuk pakan ternak maupun agar ranting tumbuh lebih subur. Para laki-laki ini sama sekali tidak tampak kelelahan menaiki dan menuruni bukit. Di sepanjang perjalanan pulang, kami juga sempat bercakap-cakap dengan warga mengenai siapa yang dalam keseharian bertugas memeriksa pipa-pipa air yang ada di tengah hutan. Dalam hal ini, termasuk berbincang tentang bagaimana cara menjaga supaya air tetap mengalir sampai rumah.

Salah satu lokasi keran pipa pengurasan air yang terletak di sisi jalan setapak. Sumber: Dokumentasi penulis.

Setelah mengikuti upacara iriban kami kembali ke rumah Sindy. Di teras rumah, telah tersedia meja yang di atasnya dipenuhi berbagai macam makanan rebus: pisang, kacang, dan jagung. Selain itu, ada pula minuman wedang asam gula aren yang mana gula tersebut dibuat sendiri oleh penduduk Dukuh Gempol. Sementara pada bagian belakang rumah, tepatnya di dapur, kami mendapati empat perempuan sedang duduk dan menyiapkan makanan lain. Beberapa di antara kami ikut duduk di dapur, lalu membuka percakapan dengan warga sembari menikmati hidangan gorengan.

Dari percakapan di dapur kami jadi mengetahui beberapa hal menarik. Misalnya, alasan para penduduk perempuan tidak turut upacara iriban. Pertanyaan ini sudah muncul di benak kami sejak dalam perjalanan menuju lokasi iriban. Lalu salah seorang penduduk perempuan di dapur menjelaskan bahwa medan jalan yang harus ditempuh sangat berat, karena itu mereka tidak ikut upacara di lereng gunung. Kendati demikian, para penduduk perempuan tetap banyak berkontribusi: mereka membuat mangkok janur, menyiapkan makanan yang dibawa dalam mangkok, hingga menyiapkan bumbu untuk memasak ayam di titik iriban.

Hal menarik berikutnya tentang penduduk perempuan Dukuh Gempol yang punya beragam keahlian. Misalnya, ada salah seorang penduduk perempuan terkenal sangat ahli memijat. Pada hari itu pula, kelihaian pijatannya langsung terbukti ketika salah seorang penulis yang keseleo di perjalanan merasa sembuh setelah dipijat. Ada pula warga yang sudah berumur cukup tua dan tersohor ahli memasak. Dia merupakan juru masak andalan setiap warga dukuh punya hajatan. Para perempuan di Dukuh Gempol juga membuat bermacam jamu, teh, kopi, gula aren, dan batik dengan pewarna alami. Belakangan para perempuan, bersama dengan, atau yang tergabung dalam Komunitas Omah Sawah, juga mengelola sampah. Mereka punya impian agar kelak tidak ada sampah yang keluar dukuh, alias sudah selesai diolah sejak di rumah masing-masing penduduk.

Kemudian, masih dari percakapan bersama penduduk perempuan di dapur, kami mengetahui pula tentang cerita awal mula munculnya sistem penyediaan air kolektif. Dahulu, ketika belum ada air dari curug yang dialirkan melalui pipa, sumber utama air bersih bagi warga Dukuh Gempol berasal dari aliran sungai. Air sungai dipakai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, minum, sampai mencuci pakaian dan peralatan memasak. Aktivitas mencuci di sungai lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan petanian kopi di daerah yang lebih atas dari Dukuh Gempol, warga mulai mengeluhkan kualitas sungai yang keruh.

Menurut penduduk perempuan Dukuh Gempol, aktivitas pertanian seperti pemupukan dan penyemprotan obat tanaman memang membawa dampak buruk bagi sungai. Ditambah lagi faktor pengikisan lapisan tanah di tempat pertanian kopi berada. Di samping itu, aktivitas harian penduduk dukuh lain yang lokasinya lebih tinggi dari Gempol juga turut memengaruhi air sungai. Bahkan warga sangat ingat bahwa pada masa itu, jika ada tamu yang berasal dari daerah lebih tinggi seperti Desa Promasan, maka biasanya si tamu enggan meminum air yang disuguhkan. Sebab si tamu paham betul bahwa air di Gempol, salah satunya berasal dari tempat di mana si tamu bermukim. Tentu saja si tamu mengetahui digunakan untuk apa saja air sungai di tempatnya tersebut.

Gagasan untuk mengalirkan air dari curug yang berada di hutan muncul pada dekade 1990-an. Ada tiga nama penggagas ide tersebut yang diingat para penduduk perempuan Gempol yakni Mbah Tambari, Mbah Sahri, dan Mbah Muhadi. Mereka dikenang warga sebagai orang yang memprakarsai pembangunan jalur air perpipa dari lereng gunung ke rumah-rumah warga. Ketika sistem pengelolaan air tersebut sudah berjalan, nama Pamasidi mulai disematkan pada wadah pengelola air tersebut. Menurut para penduduk perempuan di dapur itu, Pamasidi merupakan singkatan dari nama-nama perintis sistem penyediaan air bersih kolektif tersebut. Namun sampai saat ini, Pamasidi lebih dikenal dengan kepanjangan Paguyuban Mandiri Sidodadi.

Aliran sungai di tengah dua punggungan bukit. Tampak pipa air melintang di atasnya. Sumber: Dokumentasi penulis.

Sejak air sudah langsung mengalir ke rumah-rumah melalui pipa, aktivitas harian warga di sungai pun berkurang. Kami mendengar dari cerita penduduk perempuan bahwa dahulu, ada nasihat dari orang-orang tua untuk tidak mencuci perkakas dapur di sungai. Alasannya, selain dapat menyebabkan air sungai menghitam karena noda arang, mencuci di sungai juga berpeluang membuat orang berbuat maksiat—saling bergunjing antar tetangga. Setelah pasokan air sampai di keran rumah-rumah warga, nasihat semacam itu pun lambat laun menghilang.

Berdasarkan ingatan penduduk perempuan Gempol, sistem penyediaan air bersih di sana sempat mengalami pembaharuan sekitar tahun 2018. Warga menyebut ada bantuan dari pemerintah, yang kemudian digunakan untuk membangun tandon-tandon air berdinding semen. Dari tandon-tandon tersebut, sambungan pipa ke arah rumah, dihubungkan. Semula tidak ada meteran di rumah-rumah, sejak ada sistem tandon tersebut, ada meteran untuk mengontrol penggunaan air. Para penduduk kini membayar Rp 50/meter untuk penggunaan air sesuai angka yang tercatat di meteran.

Jumlah biaya air per bulan untuk masing-masing warga berbeda. Secara rata-rata, warga Dukuh Gempol membayar air sebanyak Rp10-15 ribu: Rp5 ribu di antaranya merupakan biaya tetap dan sisanya merupakan biaya air per meter kibik. Pembayaran air hingga Rp15 ribu tidak lazim, karena biasanya itu hanya berlaku bagi warga yang pada bulan itu sedang punya hajatan. Adapun uang yang terkumpul dari biaya air warga dipakai untuk perawatan saluran air. Dari percakapan dengan para penduduk perempuan, kami menyimpulkan bahwa nominal pembayaran sebesar Rp10-15ribu tidak mahal. Nominal tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk air di perkotaan.

Hal menarik dari percakapan di dapur belum berakhir. Kami mendapat informasi pula tentang siapa yang menjaga dan bagaimana aliran air dijaga. Rupanya hal itu telah menjadi keseharian seluruh penduduk dukuh. Jika ada warga mengalami gangguan air, maka yang pertama dilakukan adalah mengecek tandon di kebun. Jika di sana tidak ada masalah, maka pemeriksaan dilakukan pada pipa penghubung tandon dengan sumber air. Artinya, pemeriksaan harus dilakukan dengan cara menempuh medan naik-turun bukit dan menyeberangi sungai. Hal itu dilakukan secara bersama, tanpa model penjadwalan. Terkadang, penduduk yang kebetulan mencari pakan ternak di hutan yang akan melakukan pemeriksaan.

Dari mengikuti prosesi upacara iriban dan bercakap-cakap dengan penduduk perempuan Gempol, kami melihat bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan hulu DAS Garang, sangat tidak mudah. Air tidak bisa begitu saja diambil dari sumbernya, melainkan perlu upaya-upaya perawatan seperti menjaga kawasan hutan di lokasi sumber air, membersihkan tandon, memastikan air yang mengalir melalui pipa lancar, hingga menjaga tekanan air agar dapat terus ngocor di keran rumah warga. (EH, BYK)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *