Pelatihan Autoetnografi-Warga di Semarang: Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga kegiatan pelatihan autoetnografi-warga punya satu agenda utama: membahas materi “merawat air” dan “autoetnografi”. Kedua materi disarikan dari tiga dokumen Amerta Air Indonesia (Tim AirWarga Semarang) bertajuk “Ngopeni Banyu di Semarang: Sebuah Praktik Perawatan Air“; “Autoetnografi-Warga tentang Perawatan-Air di Semarang”; dan “Model dan Modul Autoetnografi-Warga Secara Kolaboratif di Semarang”. Ada 12 warga yang hadir di Kedai Kopi Kang Putu (Gunungpati, Kota Semarang) pada (01/10/2023).
Pada sesi sebelumnya (pertemuan kedua), masing-masing peserta sudah mulai menulis cerita pengalaman dalam berhadapan dengan air. Beberapa peserta juga mengumpulkan tambahan tulisan pada sesi ketiga. Oleh sebab itu, sebenarnya materi “merawat air” dan “autoetnografi” yang disampaikan pada sesi ketiga hanya pengantar. Materi tersebut dipakai untuk merefleksikan dan membuatnya kontekstual dengan hasil tulisan (draft sementara) para peserta.
Diskusi pada pertemuan ketiga berjalan mengalir. Fasilitator punya tugas membacakan sedikit materi, lalu membuka ruang diskusi. Lalu, seperti dua pertemuan sebelumnya, para peserta pun bergantian menyampaikan cerita-cerita menarik tentang air di rumah masing-masing. Dari diskusi diketahui bahwa banyak cerita warga yang cocok dengan bentuk merawat air yang teridentifikasi dari bahan materi. Bahkan ada beberapa cerita yang terasa lebih detail.
Sebagai contoh, beberapa warga bercerita bahwa menanam, merawat, atau memitoskan pohon juga bagian dari merawat air. Seperti kata salah seorang peserta yang bermukim di kaki gunung, “Anane banyu, karena anane alas (Adanya air, karena adanya hutan).” Bedanya dengan bahan materi yang disajikan, bentuk merawat air di sini terasa lebih detail: warga sampai mengetahui jenis pohon tertentu yang berguna untuk menyimpan dan/atau melestarikan sumber air bersih.
“… karena air buangan ini mengandung deterjen dan sabun maka kami menanami sumur resapan ini dengan pohon tancang dimaksudkan supaya racun yang ada di dalam air diserap pohon tancang. Mengapa pohon tancang, karena saya ingat dulu waktu kecil saya bermain di laut, waktu itu masih banyak hutan mangrove, dan lokasi yang banyak tanaman tancangnya itu ada belik yang airnya tawar padahal dekat dengan laut. Jadi saya berasumsi bahwa tancang bisa menetralkan air,” tulis warga di daerah pesisir barat Semarang. Pada sesi ketiga, dia membawa serta contoh pohon tancang tersebut.
Praktik merawat air yang datang dari pengetahuan sehari-hari semacam ini juga tercermin dari persoalan risiko (rob). Salah seorang warga membeberkan bahwa di daerah pesisir, perabotan rumah tangga cenderung lebih cepat rusak. Alasannya, ketika air rob merangsek ke permukiman, tidak semua bakal kembali ke lautan. Air rob justru menguap dan meresap ke tanah, lalu bercampur dengan air sumur dangkal. Ketika air sumur digunakan untuk mencuci, maka mesin cuci bakal lebih cepat rusak. “air laut itu korosif,” kata salah seorang warga.
Pertemuan ketiga merupakan sesi terakhir pelatihan secara tatap muka (luring). Kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan secara daring, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok akan memiliki jadwal diskusi (online) tersendiri, terutama untuk saling mendiskusikan hambatan serta hal-hal apa saja yang belum muncul dan/atau perlu ditambahkan dalam tulisan. Dengan demikian proses autoetnografi-warga di Semarang masih panjang, maka jangan bosan untuk terus mengikuti perkembangan. (BYK)
