Tingkatkan Upaya Pengelolaan Air, Tim Peneliti Merawat Air Menggelar FGD bersama Lembaga Pemerintah Kota Yogyakarta
Hari Selasa (18/07/2023) Tim peneliti Merawat Air yang terdiri dari Arkom Indonesia dan Political Government (PolGov) Fisipol UGM, serta beberapa lembaga pemerintah dari Bappeda Yogyakarta, Puskesmas Gedong Tengen, Puskesmas Tegalrejo, dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY menggelar Focus Group Discussion bertajuk “Mendorong Keterlibatan Warga dalam Mengontrol Kualitas Air Bersih di Yogyakarta”. FGD ini merupakan rangkaian agenda dari konsorsium peneliti PolGov Fisipol UGM, Arkom Indonesia, Amerta Air Indonesia, dan IHE Delft Belanda yang berjudul “Caring the flows for healthier urban(ized) (ground)water in Semarang and Yogyakarta, Indonesia (CARING)” atau “Ngopeni Banyu”. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta, dengan melibatkan partisipasi elemen masyarakat seperti Paguyuban Kalijawi dan Komunitas Embung Kali Code Yogyakarta.
“Ngopeni Banyu” merupakan sebuah project kolaborasi yang berfokus pada kajian tata kelola air (kualitas dan kuantitas air bersih) oleh warga di Yogyakarta. PolGov UGM dan Arkom Indonesia berkolaborasi dengan Paguyuban Kalijawi yang sudah lama berkecimpung dalam dunia hak pemukiman warga. Menurut dosen PolGov UGM, Amalinda Savirani, S.IP., MA., PhD., kajian tentang air ini penting untuk dilakukan mengingat ketersediaan akses air yang belum merata di Yogyakarta, serta kualitas air yang terus berkurang akibat tingginya aktivitas manusia melalui industrialisasi, alih fungsi lahan, serta ancaman krisis iklim yang sedang terjadi. Selain itu, pada tahun 2040 diprediksi pulau Jawa juga akan mengalami kekeringan.
Dr. Ir. Kuncoro Cahyo Aji, M.Si., selaku Kepala DLHK Yogyakarta menyampaikan bahwa perlu adanya kontrol dan monitor terkait pengelolaan limbah.
“Jika kita lihat dari Merapi, banyak restoran di pinggir-pinggir jalan, itu limbahnya dibuang ke mana? kontrol atau monitor ini tidak ada pak, sebenarnya kita ini perlu panglima untuk mengelola air, siapa kira-kira yang bisa melakukannya, sementara pariwisata peredarannya luar bisa. Bukan hanya bagaimana wisata mengungkit ekonomi, tapi berapa banyak uang yang disisipkan untuk ngopeni (red. merawat) air? Bahkan sampah kian naik setiap saat”, jelasnya.
Sementara itu, pihak Puskesmas Gedong Tengen dan Tegalrejo menyampaikan bahwa edukasi terkait PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) hingga sekarang masih menemui dua kendala, yakni kurangnya anggaran yang disediakan pemerintah dan kurangnya kerjasama antar lembaga, baik dari elemen masyarakat, pemerintah, maupun lembaga pendidikan. Alhasil edukasi yang disampaikan pun belum bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, pihak puskesmas juga merasa punya hambatan kultural, karena
“… ketika kami ke lapangan, rata-rata yang saya temukan, ngeyel (red. bersikeras) itu pasti, misalnya tentang BAB sembarangan itu di kota-kota sudah ada jamban, tapi kalau tidak BAB di kali (red. sungai) tidak keluar. Seperti itukan seperti orang kecanduan meskipun mereka sudah punya jamban tapi tetap BAB di sungai. Ada juga tipe yang merasa tahu padahal belum tentu benar, yang sering bilang: udah gapapa itu mah, sehingga mempengaruhi yang lain”, ujar Arinda dari Puskesmas Tegalrejo.
Pak Hanif dari Puskesmas Gedong Tengen juga menyampaikan adanya hambatan kultural lainnya berupa kebiasaan warga memasak air tidak sampai matang. Warga banyak yang mengeluhkan terkena penyakit diare di Puskesmas Gedong Tengen. Setelah ditelusuri, rupanya air yang dimasak warga mengandung bakteri e-coli yang tinggi, sementara proses perebusan air tidak sampai “kemrengseng” (red. matang sempurna) sehingga bakterinya tidak mati.
Tujuan dari FGD ini adalah untuk mengetahui gambaran umum perencanaan tata kelola air bersih di Yogyakarta, sekaligus mengetahui secara umum kondisi kualitas air saat ini. Dengan harapan ada kesimpulan yang dihasilkan, sehingga terbentuk pemahaman mengenai upaya mengontrol kualitas air bersih yang sudah dilakukan Pemda, melihat peluang serta tantangan keterlibatan warga dalam menjaga kualitas air bersih.
Penulis: Ganggas Prakosa
Editor: ADE Lestari
