Merawat Lingkungan: Mitos, Perayaan, dan Masyarakat Majemuk*

Oleh Donny Danardono**

CARING―sebuah konsorsium tiga lembaga peduli air di Semarang dan Yogya yang terdiri dari IHE-Delft Institute for Water Education, Universitas Gadjah Mada, Amerta Air Indonesia, dan Arkom Indonesia―pada April 2025 meluncurkan sebuah film bertajuk NGRUMAT (Merawat). Film yang berdurasi sekitar 32 menit dan disutradarai oleh Nicolas Kriswinara Astanujati ini mengisahkan rusaknya mutu dan jumlah air akibat pembangunan. Film ini juga mengisahkan pentingnya mitos bagi warga Kali Pelang Yogyakarta dan warga Sendang Kaliancar Semarang untuk merawat mata air dan sungai.

Film itu dimulai dengan Nandra―seorang warga  Kali Pelang, Yogyakarta―yang menuturkan asal-usul budaya merti kali atau merti desa bagi warga Dukuh Joho yang tinggal di sekitar Kali Pelang itu. Merti kali atau merti desa adalah perayaan (ritual) untuk mensyukuri berkah alam pada manusia.

Kisah itu, menurut Nanda, bermula dari kegemaran warga dalam mengkonsumsi ular. Suatu hari warga menangkap seekor ular sanca yang tak bisa mati walau ditembak kepalanya. Hanya tetakan yang memisahkan kepala dari tubuhnya yang akan mematikan ular itu. Namun akibatnya adalah selama 40 hari orang yang menyuruh menetak itu kesurupan roh ular itu. Ia melata-lata seperti ular.

Para dokter tak menemukan penyakitnya. Namun seorang pemuka agama menyatakan, bahwa penyebabnya adalah karena ia memberi tahu cara membunuh ular yang ternyata adalah peliharaan cucu mbah Jambrong. Mbah Jambrong adalah yang mbaureksa (penjaga) Kali Pelang itu. Pemuka agama itu bilang untuk membebaskan orang itu dari kesurupan dan desa itu dari kepungan pasukan ular mbah Jambrong, warga harus melarung kepala kambing dan sembako ke pantai Parang Kusumo. Pelarungan itu kemudian menjadi asal-usul perayaan merti kali atau merti desa yang sejak tahun 2017 rutin diadakan oleh warga Kali Pelang.

Sementara Madekun―seorang pengurus Sendang Kaliancar, Semarang―juga bercerita tentang mitos yang ada di Kaliancar. Mitos itu berupa kisah tentang ancaman gaib melalui mimpi atau secara langsung kepada warga yang mengkomersilkan air sendang.

“Itu banyak terjadi fenomena yang aneh. Entah itu di mimpi. Entah itu didatangi langsung. Rata-rata mengalami – kalau nggak dikembalikan, kalau dijual, nanti saya bunuh satu keluargamu”, ujarnya.

Namun selain menceritakan kedua mitos itu, Nandra dan Madekun juga menyatakan pentingnya menyelenggarakan merti kali, merti desa, kenduri (selamatan), nyadran (merawat dan berdoa di makam leluhur), dan memberi sesaji pada alam sebagai bentuk syukur manusia kepada alam yang telah memberkahi kehidupan mereka.

Nandra menyatakan, bahwa setiap tahun warga Dukuh Joho menyelenggarakan merti kali atau merti desa dalam bentuk mengarak keliling desa kendi-kendi berisi air dari tujuh mata air dengan pengawalan bergodo (pasukan). Tujuan dari merti kali atau merti desa itu adalah untuk mengingatkan warga tentang pentingnya membersihkan sungai, merawat mata air,dan tidak berburu ular lagi.

“Sungai itu harus dibersihkan. Resikono kalinè. Mata airè diopeni dan sebagainya. […] Sekarang kalau ada ular, kita tidak buru”, kata Nandra.

Sedangkan Madekun menyatakan, bahwa kenduri dan nyadran adalah cara manusia dalam mensyukuri berkah alam bagi kehidupan mereka.

“Istilah kenduri, nyadran, sebetulnya secara umum itu kan bentuk syukur. Kita sudah dikasih kehidupan, kesehatan, kelancaran ekonomi, ketentraman. Terus kita merti desa atau istilahnya sedekah bumi,” kata Madekun.

 

Mitos, Perayaan dan Masyarakat Majemuk

Begitulah, walau Nandra dan Madekun menyatakan, bahwa mitos adalah asal-usul perayaan (ritual) merti kali, merti desa, kenduri, nyadran, dan pemberian sesaji, tapi sebenarnya mereka lebih menekankan pentingnya perayaan (ritual)―dalam bentuk merti kali, merti desa, kenduri, nyadran atau pemberian sesaji―sebagai strategi untuk merawat lingkungan, dalam hal ini air sungai dan air sendang.

Mitos―sebagai sebuah kegaiban―selalu muncul sebagai kisah yang sudah jelas pada dirinya  (self evident) tentang asal-usul sebuah tempat atau sosok pahlawan. Makna dari istilah “jelas pada dirinya sendiri” adalah kisah itu tak membutuhkan pembuktian atau verifikasi inderawi dan teoritis bagi kebenarannya. Tentang hal ini Robert A. Segal (1948-2004)―seorang profesor religious studies, Universitas Aberdeen, Inggris―menulis:

I propose defining myth as a story. That myth, whatever else it is, is a story may seem self-evident. After all, when asked to name myths, most of us think first of stories about Greek and Roman gods and heroes. Yet myth can also be taken more broadly as a belief or credo – for example, the American ‘rags to riches myth’ and the American ‘myth of the frontier’.[1]

Mirip dengan pendapat Robert A. Segal, Don Cupitt (seorang teolog Kristen, Inggris), seperti yang dikutip oleh Laurence Coupe, menuturkan bahwa mitos adalah sebuah kisah rakyat, kisah yang tak jelas siapa penciptanya, yang disampaikan secara arketip (simbolik), dan yang bernilai universal tentang kesakralan sebuah tempat atau tokoh. Mitos, menurutnya, juga menyampaikan peran roh atau makhluk supra-manusia. Itu sebabnya agar kebenarannya meyakinkan, mitos kerap mengkaitkan diri dengan perayaan (ritual):

So we may say that a myth is typically a traditional sacred story of anonymous authorship and archetypal or universal significance which is recounted in a certain community and is often linked with a ritual; that it tells of the deeds of superhuman beings such as gods, demigods, heroes, spirits or ghosts.[2]

Maka dapat disimpulkan, bahwa mitos adalah sebuah kisah yang disampaikan secara simbolik dan karena itu tak membutuhkan pembuktian atau verifikasi inderawi dan teoritis bagi kebenarannya. Namun agar pesan dari mitos itu tersampaikan, seperti yang disampaikan oleh Don Cupitt, mitos perlu mengkaitkan diri dengan perayaan (ritual).

Apakah mitos bisa bertahan dalam masyarakat majemuk atau masyarakat yang memiliki beragam identitas dan budaya? Masyarakat yang memiliki beragam identitas dan budaya adalah masyarakat yang memiliki beragam cara berargumentasi tentang kebenaran sebuah fakta yang sama yang tengah mereka persoalkan. Saya kira kebenaran mitos tak akan meyakinkan mereka yang terlatih dalam pemikiran rasional.

Mitos hanya mungkin ada dalam suatu masyarakat yang homogen atau yang kesadarannya dipaksa untuk menjadi homogen oleh teknologi komunikasi modern yang memanipulasi dan membungkam rasio kritis. Misalnya anggapan Nazi Jerman tentang ras Arya Jerman sebagai ras yang murni dan karenanya ras-ras yang lain boleh ditiadakan adalah sebuah mitos yang dimunculkan melalui propaganda (cara berkomunikasi yang satu arah) saat Jerman dilanda krisis ekonomi akibat perang dunia pertama.

Sebaliknya sebuah ritual bisa merosot menjadi mitos, jika ritual itu tak mampu mendobrak cara hidup kebanyakan orang. Hal ini, misalnya dialami oleh mazab Frankfurt, yaitu sebuah mazab teori kritis neo-Marxis yang dimunculkan oleh Lembaga Penelitian Sosial, Universitas Frankfurt pada tahun 1931 saat Max Horkheimer menjadi ketuanya. Teori kritis mazab Frankfurt ini merumuskan diri sebagai sebuah teori yang mau membebaskan kesadaran manusia dari dominasi kapitalisme lanjut (late capitalism). Tapi, karena kapitalisme lanjut pada tahun 1930an-1960an begitu totaliter, karena melekatkan nilai ekonomis pada berbagai aspek dan cara hidup manusia, maka kebanyakan orang  hanya mampu berpikir secara instrumental.

Berpikir instrumental adalah berpikir dengan melihat segala sesuatu hanya dari nilai ekonomisnya (manfaatnya), bukan dari nilai estetis dan etisnya.  Misalnya pekerjaan hanya dilihat sebagai cara manusia memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup dan karena itu manusia hanya dipahami sebagai “sumber daya manusia”. Kapitalisme lanjut tak memahami pekerjaan sebagai cara manusia mengaktualkan diri, sehingga ia bisa menjadi seorang yang baik (nilai etis) dan kreatif (nilai estetis). Akibatnya teori kritis kehilangan daya emansipatorisnya. Teori kritis menjadi mitos tentang emansipasi. Tentang hal ini Sindhunata menulis:

Individu pun sudah tak berarti lagi di jaman kejayaan akal budi instrumentalis yang melahirkan masyarakat teknokratis ini. Dalam keadaan demikian individu dianggap sebagai alat belaka. Lalu pekerjaan yang semestinya merasionalkan manusia justru memperbudaknya. Sebab pekerjaan bukan lagi merupakan ungkapan atau pernyataan diri manusia yang sadar, melainkan “paksaan” dari modal yang tidak sadar. Berdasarkan hal-hal di atas, Horkheimer beranggapan setiap kali manusia berusaha meraih pengertian rasional, saat itu juga ia menjadi irasional.[3]

 

Menafisr Mitos, Merasionalkan Perayaan

Karena itu, saya kira, keberlanjutan berbagai perayaan (ritual) untuk memuliakan dan merawat lingkungan hanya akan ada, jika mitos yang menjadi asal-usul perayaan itu terus ditafsir ulang sesuai perkembangan ruang dan waktu, sehingga bisa bertahan dalam pewacanaannya di mayarakat-masyarakat sub-urban yang makin majemuk kebudayaan dan cara pikirnya.

Penafsiran ulang mitos itu dimungkinkan, karena―seperti yang dinyatakan oleh Clyde Kluckhohn dan Walter Buckett―sebenarnya mitos bisa dipisahkan ritual dan bahkan keduanya saling mandiri:

“Perhaps the first to temper the dogma that myths and rituals are inseparable was the American anthropologist Clyde Kluckhohn.The German classicist Walter Burkert (b. 1931) has gone well beyond Kluckhohn in not merely permitting but outright assuming the original independence of myth and ritual”.[4]

Dengan demikian mitos gaib terkait perawatan air sungai dan sendang di Kali Pelang dan Kaliancar itu perlu dianggap sebagai sebuah cara pikir tentang lingkungan sebagai sebuah ekosistem yang tak bisa dipilah-pilah. Itu sebabnya air tanah tak bisa begitu saja diambil melalui sumur bor dan apalagi dikomersilkan. Ular, binatang yang makin langka itu, juga tak bisa lagi dikonsumsi oleh manusia. Bagaimana pun ular adalah salah satu unsur dalam ekosistem sungai.

Sebenarnya Nandar telah menafsir ulang mitos gaib saat menyatakan, bahwa warga di sekitar Kali Pelang harus membersihkan sungai, merawat mata air dan tidak berburu ular lagi. Madekun juga menafsir ulang mitos gaib dengan menyatakan, bahwa makna dari kenduri dan nyadran adalah ungkapan syukur pada alam yang telah memberi kehidupan pada manusia. Penafsiran ulang mitos dalam konteks masyarakat majemuk ini akan membuat banyak orang rela terlibat dalam perayaan (ritual) merawat air sungai dan sendang.

 

* Disampaikan di pemutaran dan pembahasan film “Ngrumat” karya CARING yang diadakan oleh Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada; Amerta Air Indonesia; dan Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia di  Pendopo Sendang Kaliancar, Kamis, 29 Mei 2025.

**Donny Danardono adalah pengajar di FHK dan PMLP, Universitas Katolik Soegijapranata.

 

Catatan Akhir

[1] Robert A. Segal, 2004, Myth: A Very Short Introduction, Oxford, Oxford University Press, hal. 4.

[2] Laurence Coupe, 1997, Myth, London, Routledge, hal. 6.

[3] Sindhunata, 1982, Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt, Jakarta, Penerbit PT Gramedia, hal. 122.

[4] Robert A. Segal, 2004, op.cit, hal. 76.

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *