“Writing Camp” dan “Citizen Platform Consolidation” di Salatiga
Pada 21-23 Februari 2025, Tim Caring UGM-Semarang dan Komunitas AirWarga Semarang-Kendal melangsungkan kegiatan writing camp dan citizen platform consolidation di Kayu Arum, Kota Salatiga. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya, mengulas kembali, dan memproduksi rangkaian pengetahuan terkait perawatan akses terhadap dan resiko terkait air dalam keseharian di daerah hulu dan hilir Semarang-Kendal. Kegiatan tersebut juga diniatkan sebagai ruang menuangkan pengalaman lewat penulisan autoetnografi dan merawat serta mempersolid jaringan komunitas AirWarga Semarang-Demak.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan berkumpul bersama untuk sosialisasi kegiatan dan posisi platform warga. Acara dibuka dengan sesi pengenalan ulang proyek “CARING” yang dipaparkan Bagas Yusuf Kausan untuk melihat kembali tujuan dan latar belakang proyek tersebut. Sesi berikutnya, Eka Handriana memaparkan bagaimana platform warga memiliki peran penting dalam membangun jejaring perawatan air. Ia menjelaskan bahwa konsep caring (merawat) tidak hanya sebatas menjaga kualitas air, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk merawat air dari hulu ke hilir. Melalui pemetaan dan diskusi bersama, para peserta yang tinggal di berbagai wilayah Semarang didorong untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi permasalahan, serta mencari solusi berbasis komunitas.
Pada sesi diskusi platform warga, muncul inisiatif penanaman pohon sebagai salah satu langkah untuk menjaga sumber air dan mengatasi resiko terjadinya kerusakan lingkungan. Dalam sesi diskusi ini para peserta aktif bertukar pendapat. Eka misalnya, bercerita lingkungan tempat ia tinggal (di dekat sungai) jika sedang musim hujan, air akan mengikis pinggiran sungai yang berhadapan dengan tempat ia tinggal. Karena itu, bagi Eka, inisiatif menanam pohon bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi ambrolan tersebut. Madekun dari Podorejo juga ikut bercerita bahwa sendang yang ada di Kelurahan Podorejo keberadaannya mulai terancam. Ia bercerita bahwa sendang yang terletak di wilayah Perhutani ini memiliki kualitas yang baik dan layak untuk dikonsumsi. Hal ini membuat banyak investor berbondong-bondong untuk masuk ke wilayah sendang, mencoba untuk mengambil air dan melakukan pembangunan di sekitar sendang yang nantinya akan mengancam sumber mata air yang tidak pernah mati ini.
Poin percakapan Madekun tentang pohon preh yang diyakini dapat menciptakan sumber air disambut banyak orang. Jamal dari daerah hilir di Mangkang tertarik, begitu pula Simon dari daerah hulu di Kendal. Simon juga melihat adanya peluang dan potensi kolaborasi untuk menanam pohon di daerah hilir. Simon menambahkan bahwa menanam pohon juga bermanfaat untuk kelompok ibu-ibu, salah satunya dengan menanam pohon salam. Dengan menanam dan merawat bibit pohon salam, nantinya pohon ini tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan saja tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan karena daunnya dapat dijadikan bumbu dapur. Simon berharap ada upaya-upaya mengenalkan berbagai jenis tanaman kepada generasi berikutnya, termasuk mencari sejarah di balik nama desa atau daerah yang berasal dari nama pohon atau tumbuh-tumbuhan.
Pada malam hari acara dilanjutkan dengan kegiatan pendalaman materi penulisan berkelompok oleh para peserta. Kegiatan ini dilakukan untuk mempersiapkan materi yang akan dituliskan dalam penulisan bersama di keesokan harinya. Metode yang digunakan pada pendalaman materi ini sangat menarik yakni saling mengobrol satu sama lain atau teman sekamar untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan air di kehidupan sehari-hari, kemudian dicatat di whatsapp dan dikirimkan. Kiriman teman-teman ini akan membantu dalam melanjutkan tulisan (apa yang belum tercatat/tertulis nantinya bisa ditambahkan ke dalam penulisan bersama). Contoh yang dilakukan salah satu anggota Komunitas AirWarga Semarang-Kendal adalah membahas cerita sakral/mistis untuk dijadikan salah satu cara menjaga lingkungan seperti mata air dari kerusakan. Selain itu, yang dilakukan anggota lain seperti Rita adalah berbagi cerita pemakaian filter air alami di rumah untuk konsumsi. Sementara Rifah dan Imel menceritakan proses merebus air untuk kebutuhan minum.
Agenda pertama untuk kegiatan pada hari kedua adalah sesi meditasi. Sesi ini dilakukan dengan duduk bersama, mendengarkan, dan merespon keadaan sekitar. Kegiatan meditasi bertujuan untuk membantu memusatkan pikiran, melatih fokus, dan berefleksi diri. Setelah sesi meditasi, pada siang hari, lanjut ke sesi inti kegiatan yakni menulis bersama. Peserta melakukan penulisan pada kertas folio dibantu dengan beberapa warna kertas lipat untuk memantik ingatan dan pengalaman yang berkaitan dengan air (seperti tinggal dimana, bagaimana air pada waktu itu dirasakan, apakah berbau? berwarna? apa rasanya?) saat masih kecil, remaja, dan saat ini (dewasa).
Setelah setengah hari melakukan penulisan bersama, peserta lalu berkumpul secara berkelompok sesuai dengan wilayah tempat tinggalnya masing-masing (yang terbagi dalam wilayah hulu, tengah, dan hilir). Masing anggota yang berada di dalam kelompok kemudian mengulas hasil tulisan secara keseluruhan dengan membacakan tulisan masing-masing dan didengar yang lain. Fasilitator sesi ini, Gunawan Budi Susanto, ikut mendengarkan dan menyimak apa yang peserta tulis, dan setelahnya memberikan apa yang perlu ditambahkan serta apa yang tidak perlu dimasukkan ke dalam tulisan. Beliau juga berpesan dalam penulisan autoetnografi air ini lebih diisi dengan pengalaman yang sangat melekat dengan diri kita, tanpa ada opini yang terlalu jauh atau bersifat ilmiah dalam tulisan.
Isi kegiatan pada malam hari kedua acara lebih santai, namun tetap penuh makna. Acara ditutup dengan dilakukannya konsolidasi platform warga; merangkum berbagai diskusi dan gagasan yang muncul selama dua hari terakhir. Beberapa poin penting yang menjadi pembahasan dan disepakati dalam pertemuan tersebut antara lain (1) tetap melanjutkan diskusi dan aksi kolektif melalui grup komunikasi online dan offline agar jaringan tetap hidup; (2) diskusi ini juga menjadi dokumentasi dan alat perjuangan dalam bentuk tulisan, foto, video, dan, keluh kesah yang akan terus menghidupi platform tersebut; (3) terlibat dan mendorong inisiatif lokal, seperti mengunjungi tempat satu sama lain, melihat festival/acara sebagai salah satu kegiatan belajar; dan (4) melibatkan lebih banyak jaringan dan peran perempuan dalam mengambil keputusan.
Sebagai bagian dari sesi terakhir, anggota Komunitas AirWarga Semarang-Kendal diajak berkolase ria dari majalah bekas. Para peserta duduk bersama, memilah-milah majalah, dan menyalurkan kreativitasnya. Mereka menggunting dan menempel potongan gambar atau kata-kata yang menghasilkan berbagai gagasan, mewakili harapan, tantangan, impian yang berhubungan dengan air, lingkungan, dan perempuan. Kolase para peserta menggambarkan berbagai perspektif dan pengalaman mereka. Misalnya kolase Faidatul berjudul “air bumi untuk asupan bergizi anak-anak Indonesia” yang diangkat dari pengalamannya sebagai seorang ibu yang memiliki balita. Setiap hari Faidatul harus memikirkan dan memastikan bahwa anaknya memiliki gizi yang cukup. Gizi yang cukup tersebut ternyata juga berhubungan dengan air, di mana air dapat memberi hidup pada tumbuh-tumbuhan dan memberi hidup para hewan.
Dua hari yang penuh diskusi, refleksi, dan aksi kolektif ini membuktikan bahwa merawat air bukan hanya soal sumber daya alam, tetapi juga tentang hubungan sosial dan masa depan bersama. Dari kisah Jamal yang ingin menanam pohon untuk menjaga sumber air hingga ibu-ibu yang mendokumentasikan keseharian mereka demi memperjuangkan hak atas air, semua upaya ini menunjukkan bahwa merawat air adalah tugas bersama, tidak hanya bagi individu, tetapi seluruh komunitas. Lebih dari sekedar pertemuan, cara ini harapannya akan menjadi gerakan yang lebih luas. Warga semakin terhubung untuk terus berbagi pengalaman, merancang solusi, dan mengadvokasi diri untuk hak atas air yang berkeadilan. (MYWP)
