Air Warga Berpartisipasi dalam People’s Water Forum 2024

Air Warga mempromosikan co-production of (the people’s) knowledge on caring for water

Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh People’s Coalition for the Rights to Water (KRuHA) mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan People’s Water Forum (PWF) di Bali pada 20-23 Mei 2024. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, PWF diselenggarakan bersamaan dengan agenda World Water Forum (WWF) 2024 yang juga diselenggarakan di Nusa Dua, Bali pada 18-25 Mei. Sayangnya, penyelenggaraan PWF 2024 tersebut diwarnai dengan adanya tindakan intimidasi serta represi dari organisasi masyarakat (Ormas) bahkan aparat negara. Beberapa media daring telah melaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan PWF disertai dengan adanya perusakan dan perampasan spanduk atau banner kegiatan hingga karya seni yang sedianya akan dipamerkan di sekitar venue.

Aksi itu tentu saja langsung menuai protes kalangan pegiat demokrasi dan juga masyarakat luas. Sejumlah pihak menyampaikan pernyataan solidaritas mereka dan mengutuk tindakan itu. Hal ini membuat agenda PWF yang sudah disusun harus dilakukan reorganisasi ulang. Sejumlah peserta yang telah tiba di Bali baik peserta internasional maupun domestik pun sempat kecelé karena tak bisa mengikuti rangkaian acara. Mereka bahkan dilarang untuk masuk ke Hotel Oranjje, tempat dilangsungkannya acara. Beberapa di antaranya adalah Suraya Affif (Akademisi UI), I Dewa Gede Palguna (Mantan Hakim MK) dan Pedro Arrajo-Agudo (UN Special Rapporteur on Human Rights to Water and Sanitation). Meskipun demikian, PWF tetap berhasil dilaksanakan yang diresmikan pembukaanya secara hybrid pada Kamis 23 Mei 2024, dengan rangkaian acara yang dimampatkan dan kondisi yang sangat terbatas.

Dalam kegiatan PWF 2024, Air Warga ikut berpartisipasi ambil bagian terlibat dalam salah satu panel diskusi bertajuk “Water Democracy? Corporate Capture, Privatization and the Human Right to Water.” Panel ini mendiskusikan bagaimana komunitas-komunitas di seluruh dunia mulai dari Afrika hingga Palestina melakukan perlawanan terhadap adanya praktik yang melanggar hak atas air dan pelanggaran atas prinsip-prinsip keadilan dan demokrasi. Panel diskusi ini juga menjadi acara penutup bagi kegiatan PWF 2024 yang sedianya sudah berlangsung sejak tanggal 21 Mei.

Dalam kesempatan itu, tim Air Warga turut membagikan pengalaman yang sudah dilakukan selama beberapa tahun belakang saat berkolaborasi dengan komunitas dalam melacak, mendalami, dan memetakan pengetahuan warga terkait akses, perawatan dan konservasi air di Semarang dan Yogyakarta. Kegiatan kolaborasi ini menjadi agenda pertama sebagai pijakan dalam mendesain dan mendokumentasikan praktik pengelolaan warga atas sumber daya air mereka. Pengelolaan dalam hal ini memiliki makna yang luas mulai dari mendesain, mengakses, menyimpan, dan mengkonservasi air hingga perilaku warga dalam memanfaatkannya. Tujuannya, Air Warga ingin mendorong pelibatan sebanyak-banyaknya warga dalam setiap tahap, termasuk perencanaan lewat riset sederhana sebagai basis dalam mendesain model pengelolaan air yang kontekstual serta berdasarkan apa yang dipahami oleh warga sendiri.

Adapun tim membagikan pengalaman melalui presentasi yang berjudul “Air Warga: Proses Ko-Produksi Pengetahuan Air di Semarang dan Yogyakarta.” Dalam presentasi itu, tim Air Warga menyampaikan usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk mendorong keterlibatan warga dalam pengelolaan air. Basis wilayah menjadi salah satu pembeda bagaimana praktik ko-produksi pengetahuan dilakukan, selain juga karena perbedaan tantangan dan kebutuhan warga yang ada di Yogyakarta dan di Semarang. Di Yogyakarta, tim Air Warga berkolaborasi dengan Arsitek Komunitas (Arkom) lembaga masyarakat sipil yang banyak bergerak pada isu-isu perumahan dan Paguyuban Kalijawi sebuah komunitas perempuan yang tinggal di bantaran sungai. Di Semarang, Air Warga membangun jejaring dengan perempuan yang mengalami persoalan akses atas air di yang tersebar di beberapa kecamatan.

Di Yogyakarta, praktik ko-produksi pengetahuan dilakukan dengan melakukan pemetaan wilayah, survei dan juga lewat sejumlah focus group discussion (FGD) dengan komunitas warga yang tinggal di bantaran sungai Gajah Wong, Winongo dan Code. Proses pemetaan, survei dan FGD semuanya didesain (mulai penentuan lokasi hingga enumerator dan moderator) dan dilaksanakan langsung oleh warga. Ketiga sungai itu merentang dari sisi utara ke selatan dan membelah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara itu, di Semarang proses ko-produksi pengetahuan dilakukan melalui autho-ethnography untuk medokumentasikan dan mengkonsolidasikan pengetahuan serta praktik-praktik keseharian warga dalam mengelola air. Wilayah Semarang yang dilintasi berbagai macam Daerah Aliran Sungai dan juga kawasan pesisir yang kini mengalami kenaikan muka air laut menjadi konteks penting bagaimana model autho-ethnography bisa menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana pengalaman warga selama ini dalam mengakses, menyimpan, mengkoservasi hingga desain tata kelola yang kontekstual.

Dalam presentasinya, tim mencoba menarik garis merah bahwa selama dua hingga tiga dekade ke belakang pengalaman warga dalam mengakses, menyimpan, mengkoservasi hingga mengelola air di tentukan oleh berbagai macam struktur. Mulai dari struktur perekonomian yang ditetapkan oleh daerah seperti model ekonomi pariwisata di Yogyakarta, hingga persoalan makin meningkatnya jumlah warga di wilayah perkotaan (urbaninisasi) sehingga membuat alih fungsi lahan menjadi tak terhindarkan. Ketergantungan pada air tanah hingga land subsidence dan persoalan pembangunan lewat infrastruktur air yang tidak memadai dan pembangunan mega infrastruktur yang justru mengancam akses warga atas air bersih. Karena itu, praktik ko-produksi bisa menjadi pintu masuk untuk mendorong keterlibatan warga dalam menentukan model pengelolaan air yang sesuai dengan kebutuhan, kontekstual dan partisipatoris. Pendekatan ini bisa menjadi model alternatif pelibatan warga karena menempatkan warga sebagai subyek atas pengelolaan dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap air sebagai sumber daya komunitas, serta meningkatkan kesadaran warga atas pentingnya air bersih bagi kehidupan mereka.

DiasP – Air Warga

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *