Pertemuan Kelompok Semarang dan Yogyakarta, 28-29 Januari 2024

Pada akhir Januari 2024, para pekerja dan kelompok perempuan yang terlibat dalam proses penelitian “Caring the flows for healthier urban(ized) (ground)water in Semarang and Yogyakarta, Indonesia (CARING)” melangsungkan pertemuan di Semarang. Pertemuan tersebut memiliki tiga agenda yakni diskusi internal, temu jejaring kelompok perempuan (Semarang dan Yogyakarta), dan kunjungan lapangan. Berikut cerita dari dua agenda terakhir yang berlangsung selama dua hari.

Hari Pertama: Bersama-Sama Menggambar Diri dan Air

Setelah berlatih menulis pengalaman terkait air dengan metode autoetnografi-warga, serta mempraktikkannya selama beberapa pekan, kelompok perempuan Semarang berjumpa dengan kelompok perempuan dari Yogyakarta. Perjumpaan pada hari pertama berlangsung di dalam ruangan. Ada sebanyak 12 perempuan penulis autoetnografi-warga dari Semarang membaur dengan enam perempuan dari Yogyakarta, untuk mendiskusikan pengalaman sehari-hari terkait air.

Pertemuan di Semarang merupakan momen perjumpaan pertama antara dua kelompok perempuan dari dua wilayah penelitian. Karena itu, kenalan antar peserta kelompok dari dua kota yang berbeda menjadi sebuah keniscayaan. Dalam hal ini, teman-teman Arkom Yogyakarta memfasilitasi dan sekaligus mengemas momen perkenalan dengan cara yang menarik dan cair. Masing-masing peserta di minta menyebutkan nama dan lokasi tempat tinggal, disertai dengan gerakan tubuh yang dirancang sendiri. Cara seperti itu memancing gelak tawa, dan menghangatkan suasana. Para peserta jadi terpancing untuk membuka percakapan satu sama lain di sela-sela perkenalan.

Tujuan dari fasilitasi yang dilakukan oleh Arkom adalah untuk menciptakan ruang yang mendukung interaksi antara peserta dengan tujuan membangun bonding yang kuat antar peserta. Pertama dengan menggambarkan identitas diri. Dengan adanya fasilitasi, masing-masing peserta dalam forum dapat lebih mudah untuk saling mengenal satu sama lain secara mendalam. Melalui proses ini mereka dapat memahami perpektif, nilai dan identitas yang dimiliki oleh masing-masing peserta. Interaksi yang terjadi di dalam forum memungkinkan untuk pertukaran informasi, pembangunan kepercayaan, serta pemahaman yang lebih mendalam tentang latar belakang dan kepentingan peserta forum.

Selanjutnya, fasilitator dari Arkom Yogyakarta membagi para peserta menjadi kelompok-kelompok kecil, berisi tiga hingga empat peserta. Dalam kelompok kecil tersebut, para peserta bersama-sama menggambarkan/memvisualisasikan tempat hidup, peristiwa yang dialami, dan hal-hal lain yang membekas dalam ingatan, terkait air. Misalnya peristiwa kekurangan air, kesulitan mendapat air yang sehat, hingga peristiwa banjir. Menceritakan pengalaman yang membekas dalam ingatan ini merupakan pemantik untuk dapat berlanjut kepada isu-isu yang berkaitan dengan air.

Proses ini dilakukan dengan menggambar/memvisualisasi. Metode ini merupakan cara yang efektif untuk mengaktivasi otak kanan, yang seringkali terabaikan dalam kegiatan sehari-hari yang cenderung mengandalkan otak kiri. Otak kanan bertanggung jawab atas kemampuan kreatif, visual, dan intuitif yang sangat penting dalam memahami dan merekam pengalaman. Melalui menggambar, peserta dipacu untuk memvisualisasi ide, konsep, serta pengalaman secara lebih konkret sehingga memungkinkan otak kanan untuk beraktivitas secara optimal.

Dalam konteks ini, menggambar tidak hanya menjadi alat untuk merekam informasi, tetapi juga sebagai cara untuk mengaitkan pengalaman langsung dengan ekspresi visual. Aktivitas menggambar juga membuat peserta mengakses ingatan mendalam dengan memakai emosi yang secara lebih langsung. Sebab, pengalaman visual cenderung lebih melekat dalam ingatan daripada pengalaman verbal. Proses menggambar dapat memperkaya pemahaman dan cara pandang terhadap lingkungan sekitar.

Ketika gambaran-gambaran tersebut dituturkan dalam sebuah sesi, para peserta saling menyimak. Gambaran-gambaran yang muncul sangat beragam, karena para peserta memang hidup pada tempat-tempat yang berbeda. Ada yang di area hulu suatu kawasan daerah aliran sungai, ada yang di tengah, dan ada yang di hilir. Peserta dari Yogyakarta mengungkapkan bahwa beberapa pengalaman terkait air yang digambarkan warga Semarang, tidak dialaminya. Menurut peserta tersebut, barangkali hal tersebut karena Yogyakarta memang tidak memiliki karakter kelerengan area seperti Semarang.

Kesempatan berbagi cerita dan pengalaman terkait dengan air ini merupakan bentuk dari pertukaran pengetahuan antar peserta yang mampu membangun perasaan dan empati. Hal ini memungkinan orang lain untuk memahami dan merasakan pengalaman dari sudut pandang yang berbeda, sekaligus memperluas pemahaman mereka tentang pengalaman tentang air secara menyeluruh.

Kemudian para peserta saling memberikan respon. Beberapa di antaranya bahkan memberikan analisis, seperti; air merupakan sumber daya yang memicu pertengkaran; hanya yang memiliki uang yang bisa mengakses air dengan baik; risiko kekurangan air bisa terjadi di mana saja, baik di hulu maupun di hilir; sumber air di rumahnya menyusut dan kemudian harus membayar; warga tidak bisa mengelola sumber air sendiri, meski terdapat sendang di kampungnya; banyak sungai yang ditalud, tapi itu malah mematikkan mata air di sungai; tahun 1980-an PDAM mengambil air tanpa izin dari kami; masa di gunung air bayar; banyak air mengandung teyeng/karat (Semarang) dan timbrah (Yogyakarta); atau banyak cerita tradisi tentang air yang disimbolkan dengan sosok ular.

Perjumpaan hari pertama selesai sekitar pukul 16.30 WIB. Sehabis itu peserta dari kelompok perempuan Semarang pulang ke rumah masing-masing, sementara peserta dari kelompok perempuan Yogyakarta menginap di tempat acara berlangsung. Seluruh peserta pertemuan istirahat untuk menyiapkan tenaga untuk agenda pada hari kedua yakni kunjungan lapangan.

 

Hari Kedua: Bersama-Sama Mengunjungi Podorejo dan Mangkang

Daerah Mangkang/3M (Kelurahan Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, dan Mangunharjo) dan Kelurahan Podorejo merupakan bagian dari lokasi tempat di mana para penulis autoetnografi-warga—salah satu bentuk kegiatan CARING di Semarang—bermukim. Kedua daerah tersebut terhubung melalui satu unit sosial ekologis bernama Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin. DAS Beringin terletak di sebelah barat Kota Semarang dengan luas sekitar 5.965 hektar. Daerah Podorejo merupakan representasi dari area hulu DAS Beringin, sementara Mangkang adalah hilirnya.

Agenda kunjungan pertama ialah menuju Mangkang. Dari titik kumpul, warga sama-sama pergi menggunakan mobil jenis elf. Tiba di Mangkang, rombongan sudah dinanti AJ—suami salah seorang peserta autoetnografi-warga Semarang yang kini pindah rumah dari Mangkang Wetan ke Mangkang Kulon imbas adanya proyek normalisasi Sungai Beringin—yang menjadi pemandu kunjungan lapangan di Mangkang.

Sebelum berjalan menyusuri beberapa situs terkait-air di Mangkang, seluruh rombongan berkumpul terlebih dahulu di sebuah pelataran bangunan yang menjadi bagian dari kompleks masjid. Di pelataran itu AJ membeberkan sejarah terkait-air di Mangkang, merentang mulai dari cerita sumber air bersih dari mata air yang dibangun pemerintah kolonial, momen abrasi di Mangkang yang mengakibatkan tambak dan daratan berubah menjadi laut, dan beberapa hal lainnya.

Setelah itu, rombongan sama-sama berjalan menuju lokasi sumur artesis kolektif pertama di Mangkang (berupa tandon air) yang dibangun pemerintah desa pada 1980-an. Di lokasi itu AJ menjelaskan cerita pembangunan sumur tersebut, dialirkan ke mana, untuk siapa, dan adanya indikasi bahwa tandon air telah mengalami penurunan/ambles. Selain itu, AJ juga bercerita bahwa tidak semua sumur artesis di Mangkang kualitasnya bagus. Di beberapa lokasi, kualitas sumur acap terasa payau dan bahkan asin.

Dari lokasi sumur, rombongan bergegas menuju bekas rumah AJ yang terletak persis di samping dinding beton normalisasi sungai. Di sana AJ menceritakan pengalaman dia yang cukup sering terdampak banjir kiriman di Sungai Beringin. Di dekat bekas rumah AJ, terdapat sumur dangkal milik warga yang masih jernih, meski sudah jarang digunakan. Kata pemiliknya, sumur jarang digunakan lagi sejak adanya sistem air perpipaan dari sumur artesis kolektif. Lebih mudah memutar keran daripada menimba air dari sumur dangkal, tambahnya.

Kemudian rombongan bejalan pulang ke arah tempat mobil elf terparkir. Sebelum sampai di situ, AJ sempat bercerita tentang mangrove di Mangkang ketika rombongan melintas di depan sebuah rumah yang menjadi sentra produksi olahan mangrove. Setelah tiba di tempat mobil elf parkir, AJ tidak langsung mengajak rombongan melanjutkan perjalanan menuju pantai di daerah Mangkang Kulon, tapi berjalan menyusuri pematang tambak menuju hutan mangrove terlebih dahulu. AJ menjelaskan jenis-jenis mangrove dan jenis mana yang paling cocok di wilayah pesisir yang punya masalah abrasi seperti Mangkang.

Satu lokasi kunjungan terakhir di Mangkang adalah pesisir pantai di Mangkang Kulon. Karena lokasinya cukup jauh, rombongan menuju ke sana menggunakan mobil elf. Sepanjang perjalanan tampak adanya tambak-tambak yang mulai tergenang air laut. Di sebuah lapangan tempat di mana TPI Mangkang berada, AJ lanjut menceritakan perkara tambak-tambak yang hilang tergerus abrasi, kondisi tambak-tambak yang sudah tenggelam dan dibeli perusahaan, serta menunjukkan lokasi pabrik PT KLI (persis di seberang TPI Mangkang) yang dipercaya warga merupakan penyebab abrasi di Mangkang. Dari kejauhan tampak pula kapal-kapal besar yang bersandar di area pabrik tersebut. Setelah puas berdiskusi, rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju Podorejo.

Perjalanan Mangkang-Podorejo ditempuh kurang dari satu jam. Tujuan kunjungan lapangan di Podorejo adalah Sendang Kaliancar—sebuah sumber mata air yang masih dipakai warga untuk kebutuhan air minum dan airnya tidak boleh diperjual-belikan. Di lokasi sendang, terdapat dua mata air yang disebut Panguripan dan Pengasihan. Kedua mata air tampak diteduhi oleh beberapa pohon berukuran besar yang sebagian akarnya menjalar di atas permukaan tanah. Ketika rombongan tiba, terlihat beberapa warga yang memanfaatkan air sendang untuk mandi dan beberapa yang lain lalu-lalang membawa galon air mineral untuk mengambil air dari sendang. Adapun agenda pertama di Podorejo adalah istirahat dan makan siang bersama di sebuah pendopo.  

Kali ini pemandu yang banyak memberikan informasi terkait sendang adalah Pak M dan Pak SW. Keduanya merupakan pengurus sendang dan sekaligus tetangga dari tiga orang penulis autoetnografi-warga Semarang yang bermukim di Podorejo. Setelah agenda makan bersama, Pak M dan Pak SW mulai menceritakan banyak hal tentang Sendang Kaliancar. Misalnya, cerita sejarah sendang yang sempat mereka dengar dari orang tua. Warga mempercayai bahwa keberadaan sendang sudah diketahui sejak era kolonial. Kemudian pada 1970-an sempat ada penataan yang dilakukan Perhutani. Kini tanah sendang juga masih di bawah kepemilikan Perhutani dan makin terjepit, karena beberapa tanah di sekitarnya telah dimiliki perseorangan.

Pak M dan Pak SW menjelaskan bahwa sendang memiliki banyak hal menarik. Menurutnya, dari cerita yang disampaikan pengunjung, Sendang Kaliancar memiliki dimensi mistik yang kuat. Ketika pihak Aqua datang dan menguji air sendang, diketahui pula bahwa lingkungan tempat di mana sendang berada cukup aneh: terletak jauh dari gunung api, tetapi bebatuannya gunung dan airnya mengandung banyak mineral. Belum lagi cerita-cerita bahwa seseorang yang berani mengambil air sendang dan kemudian menjualnya, maka dia akan didatangi sosok ular berbadan manusia.

Sejak adanya sumur artesis kolektif di Podorejo, intensitas warga mengangsu air untuk kebutuhan air bersih memang berkurang. Namun banyak warga hanya memakai sumur artesis untuk kebutuhan mandi, sementara kebutuhan air minum tetap dari sendang. Menurut Pak M dan Pak SW, pada suatu waktu, warga sekitar sendang pernah punya keinginan untuk membendung pancuran air sendang (yang tidak pernah berhenti mengalir) dan kemudian ditarik ke atas kampung untuk kebutuhan sehari-hari warga. Keinginan tersebut tidak jadi dilaksanakan, karena salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa air tidak boleh dibawa (atau ditarik) ke atas, tapi tetap biarkan mengalir ke bawah. Dalam arti, jika membutuhkan air, warga tetap harus turun ke bawah mengambilnya dari sendang.

Informasi lain yang disampaikan Pak M dan Pak SW adalah tentang gerak pengelolaan sendang pada masa depan. Pengelola sudah pernah mendapat bantuan untuk penataan seperti pembangunan gapura dan jalan. Pihak pemerintah kerap datang, baik itu untuk sekadar kunjungan maupun melaksanakan bersih-bersih sendang. Tanah-tanah di sekitar sendang juga telah dimiliki perseorangan, sehingga tidak menutup kemungkinan akan dibuat perumahan. Karena itu, pengelola sedang berusaha untuk membuat yayasan agar dapat mengajukan permohonan akuisisi lahan. Pengelola berpandangan, jika kepemilikan lahan sendang berada di tangan warga maka penataan sendang tetap akan sesuai keinginan: lokasi sendang tetap asri dan air sendang tetap bermanfaat bagi warga untuk mandi atau minum.

Cerita pengelola Sendang Kaliancar menginspirasi kami bahwa merawat air, bisa dilakukan tidak hanya dengan menjaga kesakralan sumber air, tapi juga dengan cara merebut lahan tempat di mana sumber air itu berada. Terakhir, sampai jumpa dalam pertemuan kelompok selanjutnya di Yogyakarta. (Eka, Bagas, Evy)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *