Kegiatan Susur Sungai Winongo menjadi Sarana Edukasi Merawat Air Masyarakat Kota Yogyakarta

Hari Minggu (24/9/2023) tim peneliti Caring Water  yang terdiri dari Yayasan Arkom Indonesia, PolGov (Politic Government) Fisipol UGM dan Paguyuban Kalijawi mengadakan kegiatan susur Sungai Winongo  yang berlokasi di Kampung Notoyudan, Kelurahan Pringkusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian bertajuk “Ngopeni Banyu” di Yogyakarta. Susur sungai ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan di pinggir sungai dan kondisi sumber air yang berada di pinggir Sungai Winongo.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya dalam penggalian data penelitian terkait kondisi eksisting sumber air Sungai Winongo dan komunitas yang tinggal di pinggiran sungai tersebut. Rute yang dilalui bermula dari belik kidul  (mata air selatan) Kampung Notoyudan, menuju ke tempat pengelolaan limbah (Bioseptik) di Kampung Pakuncen dan berakhir di RTH (Ruang Terbuka Hijau) Notoyudan. Selama menyusuri sungai, Paguyuban Kalijawi yang tinggal di sekitar Sungai Winongo menjadi pemandu yang mengarahkan peserta dan bercerita mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di Kampung Notoyudan dan Pakuncen dari tahun ke tahun.

Selama kegiatan, peserta melakukan pengamatan mengenai kondisi sungai  sembari mencatat penjelasan pemandu tentang segala sudut pandang, baik dari biotanya, sosial, sampai budaya masyarakat sekitar Sungai Winongo.

Dahulu sungai ini dijadikan sebagai sumber air bersih oleh warga, baik untuk mandi, mencuci, dan memasak. Hal ini ditandai dengan banyaknya anak-anak yang mandi dan bermain air di sungai tanpa harus takut akan pencemaran air. Kini setelah berpuluh tahun, tata ruang pemukiman semakin memadat, sementara tata kelola drainase dan buangan limbah belum diregulasi sehingga warga menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah. Hal ini sangat berdampak pada kualitas air sungai yang kian tercemar. Selain itu, pembangunan talud yang menutup sumber mata air juga menjadikan debit air sungai turun.

Kendati demikian, air sungai masih aman digunakan untuk air sanitasi karena kandungan TDS (Total Dissolved Solids) berada jauh di bawah angka standar minimal baku mutu. Warga juga masih dapat memancing ikan di sungai dan sekarang sudah tidak ada lagi warga yang melakukan BAB di ruang terbuka. Sumber air sumur hingga kini juga masih terjaga dan belum pernah kering.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi antara peserta dengan tim peneliti serta komunitas terkait mengenai temuan yang didapatkan.

Penulis: Ganggas P

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *