Ringkasan artikel “Caring for water in Northern Peru: On fragile infrastructures and the diverse work involved in irrigation”

Penulis: (1) Carolina Dominguez-Guzman; (2) Andres Verzijl; (3) Margreet Zwarteveen; dan (4) Annemarie Mol.

Link on-line: https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/25148486211052216

*

Diringkas oleh Bosman Batubara, untuk keperluan belajar.

Artikel ini ada 6 bagian, yaitu: pembuka, bagian yang menjelaskan saluran irigasi Huallabamba dan janji-janji kesejahteraan yang datang bersama irigasi modern, penjelasan bagaimana para insinyur (engineer) mengelola sistem irigasi, pembanding bagaimana warga merawat irigasi, bentuk-bentuk care yang disampaikan, dan kesimpulan.

Bagian pembuka menjelaskan apa yang dilakukan oleh artikel, yaitu menjelaskan berbagai versi dari apa yang disebut “care” yang didapatkan melalui kerja etnografi pada skema irigasi besar di Peru Utara. Water care dalam artikel ini adalah alternatif terhadap water control yang biasanya banyak dipakai engineers (insinyur air dalam kasus ini) dan ilmuwan ilmu sosial dalam menjelaskan irigasi. Care di sini tidak dimaksudkan sebagai satu terminologi untuk semua tempat, tapi tetap membutuhkan eksplorasi teoretis lebih jauh.

Contoh water control adalah infrastruktur irigasi skala besar seperti waduk, jejaring kanal, pintu air, dan pengukuran-pengukuran untuk memastikan aliran air. Water control itu selain mahal, juga membutuhkan sistem sosial sendiri, imperialis bahkan (ada yang menjual/konsultan ada yang membeli/pasien), gagal menepati janji Modernitas-nya dalam menyejahterakan, bahkan dia adalah bentuk neo-kolonial. Karena itu, muncul pencarian terhadap istilah lain, di sini feminis menawarkan care.

Bagian berikutnya menjelaskan kanal Huallabamba yang dibangun pada 1930-an oleh para insinyur, dengan letak sekitar 2500 m di atas permukaan laut, memiliki beton sepanjang kanal 22 km, dan airnya bersumber dari ekosistem paramo (ekosistem akuatik di Pegunungan Andes) di Totoras dan Tambillo. Tujuan dibuatnya kanal ini adalah untuk irigasi pertanian mangga, vokad, dan anggur.

Akan tetapi, kanal modern tersebut gagal – tidak cukup cadangan air, jadi pintu air tidak berguna; di luar kanal air meresap ke tanah; air diambil oleh orang Andean; kanal longsor sepanjang 50 m pada 2008. Salah satu inisiatif untuk menghadapi kegagalan itu adalah pipa plastik agar air tetap mengalir. Pekerjaan inovatif seperti ini disebut tinkering. Jadi, kalau water control adalah soal kalkulasi dan keterprediksian, maka water care, dalam hal ini tinkering, adalah soal bagaimana menjadi adaptif dan responsif.

Untuk mendistribusikan air, para insinyur perlu tahu ada berapa banyak air. Namun dalam kasus kanal Huallabamba, perhitungan tidak bisa dilakukan (karena kanal sudah rusak; alat pengukur rusak; curah hujan tidak bisa diprediksi; informasi dari stasiun metereologi tidak bisa dipercaya karena alat/mesin tidak dikalibrasi). Para insinyur kemudian mengandalkan vigilantes (penjaga) yang dibayar untuk memonitor kanal. Pada dasarnya insinyur bisa disebut memiliki care karena mereka sekarang memberikan kepercayaan kepada vigilantes yang seharusnya adalah bawahan mereka, mereka care karena letting go (merelakan) kekuasaan yang ada pada mereka.

Secara lebih mendalam care dieksplorasi melalui etnografi terhadap kerja Emilio dan Amancio (dua orang vigilantes). Yang mereka lakukan adalah: mengatur pintu air; mengelola run-off agar kanal tidak melimpah dan menyebabkan dinding kanal doyong; membuang batu, kerikil, tanah longsor atau kumpulan material yang menghambat aliran dari kanal; memecah batu besar dengan beliung; meminta tolong penduduk sekitar kalau dibutuhkan; memecah batu besar yang menghalangi aliran air dengan dinamit.

Selain itu, mereka (Emilio dan Amancio) juga paham sejarah kanal, siapa-siapa yang meninggal di sana. Mereka juga paham dimensi spiritual kanal. Misalnya, mereka bisa melihat batu yang didiami arwah (“He looks like he is trying to come out of the stone…he is our patron…and he is watching you”, halaman 10). Kanal bagi para vigilantes, dengan demikian lebih sebagai “living companion” (teman yang hidup) yang terkoneksi secara mutual dengan vigilantes, memberi air dan perlu dirawat.

Di ketinggian area tangkapan air, para penulis menemui seseorang Bernama Silvano, masyarakat adat yang menolak tambang, karena tambang mengkontaminasi air dan menyebabkan longsor; dia bisa mendengarkan air. Dia sebutkan,

“Ketika sungai bersuara, dia berkata jagalah aku. Ketika sungai mengalir dari atas ke embung, dan kalau kau simak, dia berkata, kalau kau jaga aku, maka aku akan memberimu kehidupan. Kalau kau jaga aku, maka aku akan selalu hadir untukmu. Tapi kalau kau menyia-nyiakanku, maka aku akan berhenti mengalir. Aku akan mati (hlm. 12).

Di ketinggian orang bernyanyi, bermain, dan menari untuk air. Silvano juga menggalang aktivisme menolak tambang (memenuhi jalanan dengan batuan agar truk tambang tidak bisa lewat; mengorganisir rapat untuk menggagalkan izin tambang, meski perusahaan menyogok orang atau menawarkan pekerjaan di tengah susahnya lapangan pekerjaan; mengontak otoritas air, siapa tahu bisa menjadi kawan aliansi).

Sebagai penutup, artikel ini mengulang inti penjelasan bagaimana kesahihan makna kata “control” telah dipertanyakan, dan sebagai alternatif terhadapnya muncul kata “care”. Artikel ini menjelaskan bentuk-bentuk “care” secara longgar, bukan sebagai satu resep untuk semua tempat semua medan. Bentuk-bentuk care itu, antara lain, adaptive tinkering, ingeniero mempercaya vigilantes, watchful atau cuidar, menyimak (listening to) air, bernyanyi (singing) dan menari (dancing) untuk air, dan aktivisme (activism) menolak tambang yang merusak air.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *