“Caring for water”: kumpulan tulisan tentang merawat dan mengelola air untuk mempertahankan ruang hidup dan penghidupan
Air merupakan sumber kehidupan yang tak terpisahkan dari kebutuhan dasar manusia. Di tengah geliat pembangunan yang pesat, kota-kota di Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar yang mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan warganya. Krisis banjir, kekeringan, degradasi lingkungan dan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya alam menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat. Namun, di tengah ketidakadilan tersebut, muncul gerakan-gerakan dari warga yang berupaya merawat dan mempertahankan ruang hidup mereka melalui aksi kolektif yang tidak hanya melawan kebijakan yang merusak, tetapi juga menawarkan alternatif pembangunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Melalui kumpulan artikel di bawah ini diharapkan dapat mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh dan lebih dalam bagaimana konsep merawat dan mengelola air yang dilakukan selama ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong penerapan nilai-nilai perawatan terhadap alam dan kehidupan manusia.
Merawat dan Melestarikan Kebudayaan di Sendang Kalilancar
Salah satu contoh adalah Sendang Kalilancar, sebuah mata air yang telah menjadi sumber air bagi masyarakat Podorejo, Kota Semarang, selama beberapa generasi. Dalam artikel populer di Südostasien yang ditulis Eka Handriana, Bagas Yusuf Kausan, dan diterjemahkan Anet Keller, menceritakan bahwa, Mata air Kalilancar tidak sekedar untuk pasokan air bersih saja, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat setempat. Air dari mata air ini juga selalu terasa segar, berbeda dengan air dari sumur artesis yang sering kali berbau dan berasa logam. Masyarakat yang tinggal di sekitar mata air ini seperti Maryanah dan Juminem (yang juga tergabung ke dalam kelompok penulis autoetnografi air warga) sudah terbiasa menggunakan air sendang untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti minum, memasak, mencuci, hingga mandi.
Sayangnya kualitas air dari mata air ini mulai terancam dengan adanya pembangunan komplek perumahan di sekitar area tersebut. Rusaknya vegetasi dan pembukaan lahan dapat mengurangi jumlah air yang mengalir dari mata air. Sarwoko (seorang penjaga sendang Kalilancar) mengingatkan bahwa pembangunan di sekitar mata air beresiko besar merusak ekosistem dan keberlanjutan mata air tersebut. Untuk melindungi mata air, masyarakat setempat telah membentuk asosiasi dan melakukan upaya perlindungan secara kolektif. Dalam memelihara air juga tidak hanya melibatkan aspek teknis, tetapi juga nilai-nilai sosial dan budaya yang kuat sebagai upaya perlindungan yang berkelanjutan. Diharapkan mata air seperti Sendang Kalilancar dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
Merawat Air dan Merebut Ruang Hidup: Kisah Warga di Empat Kota
Warga di beberapa wilayah seperti Sleman, Yogyakarta, Ambarawa, dan Semarang tidak hanya berjuang untuk mendapatkan akses air, tetapi juga mempertahankan hak mereka terhadap air yang bersih dan bebas dari eksploitasi. Mereka juga mengembangkan solusi berbasi pengetahuan lokal untuk menghadapi kelangkaan air dan degradasi lingkungan, termasuk melakukan aksi protes terhadap kebijakan yang tidak adil. Dalam artikel The Conversation yang disusun oleh Yesaya Sandang, Bagas Yusuf Kausan, Bosman Batubara, dan Eka Handriana mengajak bagaimana pemahaman kita tetang air seharusnya tidak hanya melibatkan aspek lingkungan dan teknis. Kebijakan, budaya, dan dinamika sosial juga mempengaruhi serta dipengaruhi oleh keberadaan dan pengelolaan air.
Beberapa warga yang terlibat dalam organisasi, akademisi, masyarakat sipil, dan aktivis lingkungan merekam berbagai upaya warga untuk memulihkan hak atas air. Pemulihan ini tak hanya terkait pengaliran air, tetapi juga aksi-aksi sosial dan restorasi ekosistem di sekitarnya. Kisah warga empat kota di atas juga termuat dalam buku Ngelep, Ngrumat, Niteni: Ekologi Politik Merawat Air dan Ruang Hidup di Jawa Bagian Tengah. Kisah-kisah tersebut juga memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana warga memaknai konsep merawat dan mengelola air. Mereka menunjukkan bahwa resistensi terhadap kebijakan yang tidak adil, desentralisasi dalam pengelolaan air, dan transformasi tata kelola air adalah kunci untuk mencapai keadilan lingkungan dan sosial.
Dari Pembangunan Kapitalistik ke Pembangunan yang Merawat: Resistensi dan Resiliensi Terhadap Bencana
Artikel ini ditulis Eka Handriana, Yesaya Sandang, dan Bagas Yusuf Kausan di Jurnal Prisma Kerentanan dan Keadilan Volume 43, Nomor 3, Tahun 2024. Artikel tersebut mengkritik model pembangunan kapitalistik yang diterapkan di Jawa bagian tengah, yang tidak hanya memperburuk masalah sosial-ekologis, seperti banjir dan kekeringan, tetapi juga menguntungkan segelintir kelompok dengan memanfaatkan krisis tersebut untuk keuntungan ekonomi. Dalam konteks ini, dua kelompok masyarakat terbagi menjadi dua, yakni kelompok agen pembangunan kapitalis (seperti pengembang perumahan, dan kawasan industri, pemilik hotel, hingga pengusaha konstruksi) dan kelompok warga kebanyakan yang menanggung lebih banyak kerugian dan kerusakan, serta mempertahankan ruang hidup dengan cara merawatnya.
Dalam konteks pembangunan kapitalistik, negara justru lebih memihak pada kepentingan modal ketimbang kesejahteraan rakyat. Negara juga lebih mendukung kebijakan yang memperburuk ketimpangan sosial dan ekologi, sementara di sisi lain, warga melakukan aksi perlawanan untuk mempertahankan hak-hak mereka atas lingkungan dan kehidupan yang kayak. Salah satu bentuk perlawanan tersebut berbentuk gerak perawatan seperti mengatur pasokan air desa, menanggulangi banjir, menggeladak lantai rumah, hingga memprotes pemerintah.
Menghubungkan Degrowth di/dari Selatan dengan Ekologi Perkotaan yang di Provinsialisasi: Konservasi Mangrove dan Air Tanah di Semarang, Indonesia
Kota Semarang, sebagai kota pesisir di global south, menghadapi resiko lingkungan yang semakin meningkat akibat urbanisasi dan eksploitasi sumber daya alam. Artikel yang ditulis oleh Bosman Batubara, Marie Belland, dan Michelle Kooy termuat dalam Asia Pacific Viewpoint Volume 65, Number 3, December 2024 yang berjudul Linking Up Degrowth in/From the South With Provincialised UPE: Mangrove and Groundwater Conservation in Semarang, Indonesia menghubungkan konsep degrowth dengan urbanisasi melalui analisis transformasi lingkungan di pesisir Kota Semarang. Ada dua bentuk aktivisme yang dibahas yakni (1) menentang pembangunan infrastruktur raksasa berbasis pertumbuhan yang sedang berlangsung, dengan akar politik dalam konservasi ekosistem mangrove dan (2) berfokus pada konservasi air tanah. (MYWP)
