Mendorong Keterlibatan Warga dalam Pengelolaan Air, Tim Peneliti Caring Water Gelar FGD bersama Lembaga Pemerintah Kabupaten Sleman, DIY

Hari Selasa (8/8/2023) tim peneliti Caring Water (Merawat Air) yang terdiri dari Arkom Indonesia bersama dengan PolGov (Politics and Government) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada serta beberapa lembaga pemerintah dari Bappeda Sleman, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata, dan Puskesmas Depok Sleman, mengadakan FGD (Focus Group Discussion) bertema “Mendorong Keterlibatan Warga dalam Mengontrol Kualitas Air Bersih di Yogyakarta”. FGD ini merupakan rangkaian agenda dari konsorsium peneliti PolGov Fisipol UGM, Arkom Indonesia, Amerta Air Indonesia, dan IHE Delft Belanda yang bertajuk “Ngopeni Banyu”. Kegiatan ini juga melibatkan elemen masyarakat yakni Paguyuban Kalijawi dan Kepala Dusun Joho Kabupaten Sleman. FGD dilaksanakan di hotel Indoluxe, Yogyakarta.

Diskusi ini merupakan lanjutan dari FGD sebelumnya yang membahas secara keseluruhan mengenai pengelolaan air di lingkup Provinsi Yogyakarta. FGD kali ini lebih berfokus pada pengelolaan air di wilayah Kabupaten Sleman, khususnya tentang perencanaan dan tata kelola sumber-sumber air.

Raka dari Bappeda Sleman menuturkan bahwa penggunaan air PDAM di Kabupaten Sleman baru mencakup kisaran 20%, sedangkan sebagian besar warga masih menggunakan air tanah dari sumur yang secara umum masih tercemar dengan bakteri e-coli. Dari pihak Bappeda sendiri lebih menganjurkan untuk berlangganan air PDAM atau PAMDES karena lebih mudah untuk dipantau kualitas airnya dibandingkan air sumur.

Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa, data laboratorium kesehatan di tahun 2022 menunjukkan persentase sampel air yang memenuhi syarat berada di angka 34 persen, sedangkan di tahun 2023 angka tersebut turun menjadi 31 persen. Untuk menangani hal ini Dinas Kesehatan memiliki tiga cara yakni; (1) melakukan inspeksi, (2) melakukan intervensi, dan (3) menyediakan layanan konsultasi. Sementara itu sebesar 68 persen sumber air mengalami pencemaran. Pihak Dinkes menekankan bahwa seluruh pihak mulai dari PDAM hingga masyarakat bertanggung jawab dalam merawat air. Disini keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam suksesnya program-program pemerintah, diantaranya adalah; (1) berhenti buang air besar sembarangan; (2) cuci tangan menggunakan sabun; dan (3) berhenti membuang sampah dan limbah cair ke sungai.

Selanjutnya, Bu Wati dari Puskesmas Depok menjelaskan bahwa sebesar 30 persen sumber air di kecamatan Caturtunggal baru memenuhi syarat parameter mikrobiologi, sedangkan sebesar 65 persen sumber air sudah memenuhi syarat parameter kimia. Upaya untuk meningkatkan kualitas air diantaranya adalah melakukan kaporisasi terhadap sumber-sumber air dan mengadakan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) guna memeriksa keberadaan septictank yang dekat dengan sumber air.

Sementara itu, Kepala Dusun Joho Kecamatan Depok menambahkan bahwa debit air di wilayah sekitar sungai Pelang kini telah menurun disebabkan oleh berkurangnya ruang terbuka hijau karena semakin banyaknya pemukiman di sekitar sungai Pelang.

Tujuan dari FGD ini adalah mendiskusikan kondisi terkini kualitas air bersih di Kabupaten Sleman dan mengidentifikasi peluang serta tantangan pelibatan warga dalam “menjaga air” di wilayah Kabupaten Sleman.

Penulis: Ganggas Prakosa

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *