Air Warga dalam AAS-In-Asia Conference 2024
Pada 9 Juli 2024, Air Warga mengambil bagian dalam konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Association for Asian Studies (AAS) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Konferensi yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 9 hingga 11 Juli ini menarik ribuan pengunjung dan menampilkan ratusan panel dan sesi presentasi oleh peneliti dan akademisi dari 43 negara yang memiliki fokus studi wilayah (area studies) di Asia termasuk Asia Tenggara. Dengan tema “Global Asians: Latent Histories, Manifest Impacts”, konferensi ini menyoroti kontribusi Asia terhadap perkembangan budaya global serta persaingan strategis di bidang ekonomi dan politik yang sebagian besar terjadi di Asia.
Dalam konferensi ini, Air Warga menyelenggarakan panel session pada hari pertama dengan tema “The Politics of Groundwater in Urban Yogyakarta.” Adapun, panel itu dipimpin oleh Peneliti Senior Caring Bayu Dardias Kurniadi, Ph.D dan mencakup tiga sesi presentasi yang membahas berbagai perspektif tentang politik air tanah di Kota Yogyakarta. Semua temuan, hasil observasi dan data-data yang disampaikan dalam panel ini bersumber dari kegiatan “Ngopeni Banyu”yang dilakukan secara kolaboratif antara the Research Centre for Politics and Government (PolGov), Arsitek Komunitas (Arkom) dan Paguyuban Kalijawi sejak 2023.
Dias Prasongko dan Ardiman Kelihu, keduanya adalah Peneliti Junior Caring dari the Research Centre for Politics and Government (PolGov) memulai panel pertama dengan presentasi makalah yang berjudul “Inequality in Clean Water Access of Yogyakarta Urban Poor.” Menggunakan pendekatan ekologi politik, mereka mengeksplorasi isu ketidaksetaraan akses air di Kota Yogyakarta sebagai implikasi atas kebijakan pembangunan wilayah yang tidak mempertimbangkan keadilan dan keberlanjutan lingkungan. Memanfaatkan kebijakan pariwisata dan pembangunan infrastruktur yang masif sebagai pintu masuk, keduanya juga menggarisbawahi tentang hasrat negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar ketimbang mengelola keberlanjutan lingkungan dan mengedepankan keadilan lewat kebijakan pembangunannya.
Dias memaparkan bahwa kebijakan pembangunan di Yogyakarta sejak tahun 1980-an, yang berfokus pada peningkatan ekonomi berbasis pariwisata, telah menyebabkan peningkatan pembangunan hotel yang tidak disertai dengan infrastruktur perpipaan air bersih yang memadai. Karena itu, hotel-hotel banyak memanfaatkan sumber air tanah (sumur) dibandingkan dengan air perpipaan milik PDAM. Situasi ini yang kemudian memperburuk akses dan ketersediaan air bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar hotel terutama pada musim kemarau. Akibatnya, ekstraksi air tanah menjadi tidak terkontrol dan muka air tanah turun secara drastis di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang mana merupakan area konsentrasi perkembangan hotel terbanyak. Belakangan, kebijakan pembangunan berbasis ekonomi pariwisata ini telah memicu perubahan landscape/tata ruang, khususnya hilangnya area hijau di wilayah perkotaan.
Ardiman melanjutkan presentasi dengan menyoroti dampak pembangunan infrastruktur perkotaan terhadap ketersediaan air. Infrastruktur di sini berkaitan dengan pembangunan talud di sepanjang pinggir sungai yang justru mengakibatkan hilangnya mata air (belik) seperti di Sungai Pelang, Joho, Kabupaten Sleman dan Sungai Code, Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Padahal, secara sosiologis mata air tersebut merupakan sumber air bersih alternatif yang biasanya dimanfaatkan warga sejak dahulu. Pembangunan infrastruktur besar baru untuk mendukung ekonomi daerah berbasis pariwisata, seperti Yogyakarta International Airport (YIA) juga turut berkontribusi bagi berkurangnya ketersediaan air sekaligus berpotensi untuk memperparah ketidakadilan akan akses atas air.
Pada sesi kedua, Evy Gustiana, Peneliti Junior Caring dari Arkom mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Collective Action on Water Access in Urban Yogyakarta.” Ia menyoroti bagaimana aksi kolektif masyarakat menjadi krusial dalam mengatasi masalah akses air di wilayah perkotaan. Evy mengungkapkan bahwa sebagian besar sumber air tanah di Yogyakarta tercemar bakteri E.Coli dan mengalami perubahan warna yang sebagian besar diakibatkan eksploitasi air tanah oleh hotel-hotel. Merespons situasi demikian, gerakan warga seperti “Jogja Darurat Air”, “Jogja Asat”, dan “Jogja Ora Didol” muncul untuk menyuarakan permasalahan ini dan mendorong kesadaran publik atas permasalahan air. Namun, meski gerakan-gerakan organik tersebut telah berhasil meningkatkan kesadaran warga terkait pentingnya air, gerakan itu masih belum cukup untuk menghadapi masalah ketersediaan dan akses air yang masih terus berlangsung.
Studi yang dilakukan oleh Evy juga menyoroti strategi yang dilakukan oleh warga dalam merespons situasi ketersediaan air yang terbatas. Misalnya, bagaimana warga yang tinggal di bantaran sungai harus mengatasi persoalan terbatasnya infrastruktur air perpipaan yang melewati wilayah mereka? Atau bagaimana cara warga beradaptasi di tengah hilangnya mata air alternatif “belik” akibat pembangunan dan penataan wilayah pinggiran sungai? Mengutip studi yang dilakukan, ada dua strategi yang umum dilakukan. Pertama, strategi berbasis kebudayaan dan berbasis manajerial sumber daya. Terkait strategi kebudayaan, di beberapa titik lokasi khususnya area yang dilintasi oleh sungai, seperti warga di wilayah Joho melakukan kegiatan “Merti Kali” untuk merawat aliran sungai serta sumber-sumber mata air di sekitarnya. Kedua, pengelolaan sumber air berbasis komunal. Hal ini misalnya, dilakukan pembuatan sumur yang dikelola dan dimanfaatkan secara komunal (community-based water governance). Warga yang lain, di sekitar Sungai Code misalnya melakukan dengan membentuk Kelompok Pemakai Air (Pokmair) yang mampu menciptakan sistem penyaluran air secara mandiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.
Adapun, presentasi terakhir dalam panel ini disampaikan oleh Peneliti Junior Caring dari the Research Centre for Politics and Government (PolGov), Nicolas Kriswinara, dengan judul “Citizen Science & Decolonization of Knowledge: Everyday Practices of Accessing and Caring Water in Urban Yogyakarta.” Kriswinara menjelaskan konsep citizen science dan bagaimana pengetahuan lokal yang dikembangkan oleh warga berperan dalam mengakses dan merawat air. Ia menyoroti bahwa pengetahuan lokal bersifat adaptif dan didasarkan pada pengalaman sehari-hari warga yang berhasil didokumentasikan melalui kegiatan “Ngopeni Banyu”. Upaya untuk mengangkat dan mengeksplorasi pengetahuan lokal juga menjadi bagian dari upaya untuk men-’dekolonialisasi’ pengetahuan yang selama ini hanya menjadi milik kelompok berpendidikan, sehingga mampu menciptakan jembatan antara sains dan tantangan riil yang dihadapi oleh masyarakat. Dekolonialisasi pengetahuan ini memungkinkan adanya partisipasi langsung bagi warga untuk ikut menentukan dan menyusun solusi yang kontekstual atas tantangan yang mereka hadapi khususnya terkait air. Proses ini diharapkan bisa memunculkan demokratisasi pengetahuan sehingga memastikan bahwa produksi pengetahuan bisa terus berlangsung di dalam komunitas masyarakat.
Kendati demikian, Kriswinara juga memaparkan bahwa dalam praktiknya citizen science memiliki tantangannya sendiri, khususnya berkaitan dengan tantangan tata kelola air di Yogyakarta yang semakin struktural. Dalam konteks ini, struktural tidak hanya berarti terbatas pada rendahnya kapasitas penyedia layanan air bersih (PDAM) lewat minimnya infrastruktur perpipaan, tetapi tantangan bersifat sistemik yang diproduksi lewat pilihan kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan keadilan dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, persoalan air membutuhkan solusi yang lebih komprehensif dan memerlukan inovasi kebijakan serta dorongan politik yang lebih kuat.
Dengan menyelenggarakan sesi ini, Air Warga menegaskan pentingnya keadilan dalam akses air tanah dan mengajak seluruh pihak untuk lebih memperhatikan isu-isu kritis terkait air di perkotaan, khususnya di Yogyakarta. Konferensi ini tidak hanya menjadi platform untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga untuk menginspirasi tindakan nyata dalam menghadapi tantangan global dan lokal pada isu air.
Penulis: Nicolas Kriswinara dan Dias Prasongko
