Diskusi Buku “Ngelep, Ngrumat, Niteni: Ekologi Politik Merawat Air dan Ruang Hidup di Jawa Bagian Tengah”

Pada 22 Agustus 2024, Bagas Yusuf Kausan, salah satu anggota Tim AirWarga Semarang, menjadi pembicara dalam acara “Bedah & Diskusi Buku” di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Buku yang didiskusikan bertajuk Ngelep, Ngrumat, Niteni: Ekologi Politik Merawat Air dan Ruang Hidup di Jawa Bagian Tengah (2024). Acara tersebut dibuka oleh Dekan Fakultas Interdisiplin (FID) UKSW, Prof. Daniel Daud Kameo, S.E., M.A., Ph.D dan dimoderatori oleh Mahasiswa Doktor Studi Pembangunan FID UKSW, Aveanty M. Sumtaki. Dalam pemaparannya, Bagas menjelaskan empat hal berikut ini.

Pertama, karena buku tersebut adalah kumpulan tulisan, Bagas menunjukkan terlebih dahulu nama-nama penulis dan judul tulisan. Kedua, Bagas menceritakan tahapan proses pembuatan buku. Misalnya cerita mengenai tahapan pengayaan materi yang terdiri dari sesi workshop “Caring for Water dan Autoetnografi” dan serial diskusi “Kelas Baca Ekologi-politik”. Ketiga, Bagas membeberkan tabel yang berisi dimensi dari masing-masing tulisan. Salah satu dimensi memuat bentuk merawat air apa saja yang teridentifikasi dari masing-masing tulisan. Salah satu bentuk merawat air yang hampir selalu muncul adalah Watchful atau niteni.

Penjelasan terakhir, atau Keempat, adalah rangkuman umum. Menurut Bagas, satu benang merah utama dari buku adalah bahwa ekspansi—yang kelak akan menjadi konsentrasi—modal yang termanifestasikan dalam bentuk “pembangunan” senantiasa butuh ruang, manusia, dan sekaligus air. Proses “pembangunan” itu berlangsung secara timpang: ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Ekspresi dari “pembangunan yang timpang” tersebut bisa sangat beragam.

Di Yogyakarta, orientasi pembangunan yang lebih dominan adalah untuk pariwisata. Orientasi ini seringkali lebih merugikan warga kebanyakan. Bentuknya bisa berupa debit sumur dangkal warga menurun (tulisan ke-3); ruang hidup dikorbankan menjadi tempat sampah raksasa yang mencemari air warga Bantul (tulisan ke-4); atau memaksa warga memikirkan sendiri penyediaan air di dusun agar lebih murah dan merata untuk semua orang (tulisan ke-2).

Di Semarang, orientasi pembangunan yang lebih dominan adalah untuk industri beserta infrastruktur pendukungnya. Ditambah lagi, di hadapan masalah risiko terkait air seperti banjir, orientasi tersebut sering mencuatkan solusi-solusi yang justru makin merugikan warga. Misalnya, menggusur perkampungan warga atas nama “normalisasi sungai” (tulisan ke-7); mengancam hidup dan ruang penghidupan warga atas nama “revitalisasi danau” (tulisan ke-5); atau memaksa warga memikirkan sendiri solusi atas masalah banjir (tulisan ke-6).

Di hadapan proses dan ekspresi dari “pembangunan yang timpang” tersebut, warga tidak tinggal diam. Warga telah melakukan sangat banyak siasat yang diidentifikasi dalam buku sebagai bentuk “merawat air dan ruang kehidupan”. Bahkan, termasuk praktik “merawat air” dari sisi yang lebih diskursif: menolak privatisasi air berbasiskan pandangan Islam (tulisan ke-8). Ragam praktik “merawat” itu tidak dimaksudkan untuk meromantisasi “praktik lokal atau alternatif”. Praktik tersebut justru bisa dilihat sebagai respon terhadap ketimpangan sistemis—baik itu dalam garis gender, kelas, ras, atau persimpangannya—yang senantiasa melibatkan banyak bentuk relasi kekuasaan (artikel ke-9).

Setelah sesi pemaparan oleh Tim AirWarga, buku tersebut kemudian dibedah oleh Dosen FID UKSW, Dr. Wilson M.A. Therik. Beliau menyampaikan dua hal utama: kekuatan dan kelemahan buku. Letak kekuatannya adalah (1) memakai pendekatan yang inter/multi-disiplin; (2) konsisten untuk mengkritik komodifikasi air; dan (3) menawarkan cara pandang profetik ekologi. Sementara untuk kelemahannya adalah (1) baru terbatas pada profetik ekologi dalam Islam; (2) pemakaian bahasa yang terlalu akademis; (3) kurang menyediakan solusi yang lebih praktis di lapangan; dan (4) berpotensi bias, karena sangat kritis terhadap kapitalisme sehingga cenderung mengabaikan model analisis lain.

Setelah pemaparan Dr. Wilson, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini, ada beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan. Beberapa peserta lain menceritakan praktik, pengetahuan, atau pengalaman mereka terkait air. Sebagai contoh, Prof. Daniel yang berbagi pengetahuan dari pengalaman hidup di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana banyak terdapat oase (semacam mata air) yang ada di area savana. Oase itu tidak hanya menjadi sumber penghidupan warga, tapi sekaligus sumber kebudayaan. Namun dia mengeluhkan kurangnya panggung untuk diskusi tentang air. Bahkan hari ini cenderung sudah “tidak proporsional lagi antara kegentingan masalah air dengan panggung yang ada,” kata Prof. Daniel. (Imel/BYK).

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *