Merawat Air, Menjaga Tradisi: Screening dan Diskusi Film “Ngrumat” di Yogyakarta

Selasa, 22 April 2025, bertepatan dengan hari bumi sedunia, Air Warga menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film dokumenter “Ngrumat”. Lebih dari 100 peserta memadati Auditorium FISIPOL UGM mengikuti acara ini. Pemutaran film ini dirangkai dengan diskusi yang melibatkan pegiat komunitas, jurnalis, hingga akademisi. Diskusi ini tidak hanya mengupas isi film, tetapi juga menggali makna manusia berinteraksi dan merawat sumber daya air di perkotaan. Diskusi ini juga diperkaya oleh perspektif multidisiplin dengan melibatkan berbagai sudut pandang, seperti praktisi, warga dan akademisi.

“Ngrumat” adalah film yang berangkat dari hasil riset Air Warga tentang upaya-upaya masyarakat di akar rumput dalam menjaga dan memelihara sumber-sumber air. Istilah “ngrumat” atau “memerti” yang berarti merawat, memelihara, atau melestarikan. Praktik “ngrumat” ini menjadi benang merah yang mengikat berbagai praktik baik yang dilakukan oleh warga melalui pengetahuan lokal yang mereka miliki. Praktik merawat air ini berlangsung seiring dengan pembangunan fisik perkotaan yang merubah sumber dan akses atas air bersih milik warga. Film ini mengangkat kisah dari pengalaman warga di Padukuhan Joho, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta dan Kelurahan Kaliancar, Podorejo, Kota Semarang.


Pandangan dan Pengalaman “Ngrumat” dari Pembicara
Diskusi yang dimoderatori oleh Solahudin dari Arkom Indonesia menghadirkan Lintang Fadlilah (UGM), Totok Pratopo (Pemerti Code), dan Titah A. W (Jurnalis) sebagai pembicara. Masing-masing membawa perspektif unik yang memperkaya pemahaman audiens tentang praktik merawat air.

Totok Pratopo, yang saat ini sebagai ketua Pemerti Kali Code, berbagi pengalamannya dalam mengelola sumber mata air di tengah kompleksitas perkotaan. Ia menekankan pentingnya peran kepala daerah dalam mendukung upaya pelestarian, sekaligus tantangan dalam melibatkan generasi muda. “Sebenarnya ‘memerti’ itu setiap hari ya. Perilaku merti memang harus setiap hari,” ujarnya. Ia menggarisbawahi bahwa merawat air bukanlah proyek sesaat, melainkan sebuah laku hidup keseharian. Kelompok Tirta Kencana yang disebutnya berhasil menghidupi ratusan jiwa dengan biaya air yang terjangkau menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan air berbasis komunitas bisa berjalan.

Titah A. W, seorang jurnalis lepas, membawa perspektif  berbeda di diskusi.Ia membahas  bagaimana kearifan lokal dan bahkan hal-hal yang dianggap di luar nalar turut berperan dalam upaya konservasi. Ia menceritakan pengalamannya meliput di berbagai daerah, di mana masyarakat lokal memiliki cara pandang bahwa alam memiliki agensinya sendiri. “Bagaimana lokal wisdom digunakan oleh warga untuk melakukan konservasi,” ungkapnya, seraya memberi contoh kisah pohon yang “tidak mau” ditebang saat pembangunan JJLS atau bom yang gagal meledak di bukit sakral. Baginya, cerita-cerita tersebut bukan sekadar takhayul, melainkan representasi pengetahuan mendalam masyarakat adat tentang keseimbangan ekologis. “Ini bukan sekedar cerita hantu. Ini lebih dari itu,” tegasnya. Titah berpendapat bahwa narasi-narasi semacam ini perlu diangkat untuk menunjukkan bahwa ada cara pandang lain terhadap alam, yang tidak semata melihatnya sebagai objek eksploitasi.

Lintang Fadlilah dari Fakultas Geografi UGM menyoroti isu hidrologi dari kacamata akademisi, mulai dari kuantitas, kualitas, konservasi, hingga regulasi terakit air. Ia mengamini temuan di lapangan, seperti perbedaan debit air di musim kemarau dan penghujan, serta fenomena groundwater reborn di Yogyakarta akibat banyaknya warga yang beralih ke PDAM. Lintang juga menyoroti pentingnya uji kualitas air secara saintifik, meskipun warga sudah memiliki pengetahuan lokal untuk mendeteksi kualitas air melalui warna, bau, dan rasa. “Di sinilah peran kita sebagai akademisi untuk menjembatani sains dan budaya,” katanya, menekankan perlunya sinergi antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Ia juga menyinggung bagaimana area-area yang dianggap keramat seringkali berfungsi sebagai zona konservasi air.

“Ngrumat” dari Perspektif Audiens
Sesi diskusi diperdalam dengan pertanyaan dan tanggapan dari audiens. Bintang dari Lingkar Keadilan Ruang menyoroti kecenderungan manusia yang berorientasi ekstraktif, bahwa “ngrumat” saat ini dibutuhkan. Ia mengusulkan istilah “pengetahuan kolektif” ketimbang “pengetahuan lokal” dan menekankan pentingnya perspektif sains yang lebih bijaksana dan rendah hati terhadap pengetahuan masa lalu.

Ikhsan, seorang kandidat PhD dari Universitas Bern, Swiss, mempertanyakan tentang celah kewenangan antara pusat dan daerah dalam pengelolaan wilayah sungai dan peran akademisi dalam “merti kali”. Menanggapi ini, Totok Pratopo menjelaskan bahwa posisi komunitas saat ini hanya sebagai mitra pemerintah dan tidak memiliki kewenangan lebih. Forum multi-stakeholder yang ada pun seringkali hanya bersifat seremonial.

Bimo dari Fakultas Ilmu Budaya UGM mengajukan pertanyaan mengenai fungsi mitos dalam menunjang keberhasilan gerakan “Ngrumat”, terutama di tengah masyarakat yang semakin heterogen. Titah A.W. menjawab bahwa tugasnya sebagai jurnalis adalah menjembatani antara narasi saintifik dan mitos, tanpa mempertentangkannya. Ia percaya bahwa cabang ilmu yang ramah terhadap pengetahuan lokal semakin berkembang dan karyanya bisa menjadi amplifier bagi praktik baik di masyarakat. Perkembangan ilmu ini yang menjadi ruang terbuka untuk diskursus mitos yang ada menjawab tantangan dalam upaya perawatan air sebagai siasat warga akibat kekosongan peran pemerintah dalam menjembatani pembangunan fisik yang mengubah akses air bersih dengan kebutuhan empiris warga di perkotaan saat ini.

Penutup: Merawat Air, Menjaga Ingatan Kolektif
Kesimpulan dari diskusi ini adalah bahwa upaya “merawat air” bersifat multidimensional dan memerlukan kerjasama berbagai pihak, tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis tetapi juga sosio-kultural. Lintang Fadlilah berharap agar berbagai disiplin ilmu dapat bersinergi untuk menjaga air, baik dari sudut pandang budaya maupun teknis. Totok Pratopo menyoroti tantangan masa depan seperti mikroplastik dan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Sementara itu, Titah A.W. menegaskan kembali peran penting narasi lokal dalam upaya konservasi, dengan menyatakan bahwa “Air itu kata kuncinya: konektivitas”. Ia menambahkan bahwa air yang kita gunakan saat ini adalah air yang sama sejak jutaan tahun lalu, sehingga masalah air merupakan tanggung jawab bersama yang harus diatasi oleh semua orang.

Pemutaran dan diskusi film “Ngrumat” berfungsi sebagai pengingat bahwa di tengah modernisasi dan pembangunan perkotaan, kearifan lokal perlu terus digali dan dilestarikan. Merawat air pada dasarnya adalah merawat kehidupan itu sendiri, sebuah tanggung jawab kolektif yang tidak boleh diabaikan. Lebih jauh, merawat air juga berarti menghubungkan kita dengan memori  dan praktik-praktik lokal yang hidup di masyarakat. Keterkaitan dengan ingatan ini membantu kita memetakan perubahan lanskap sumber daya air dan menyadarkan bahwa upaya konservasi air telah dilakukan masyarakat kita sejak dulu, dan dapat menjadi pelajaran berharga untuk masa kini.

Penulis: Nicolas Kriswinara Astanujati
Editor: Ardiman Kelihu

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *